Semua orang bisa berbicara. Namun, tidak semua orang mampu membuat orang lain benar-benar mendengarkan.
Kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking bukan sekadar persoalan berani tampil di hadapan banyak orang. Lebih dari itu, kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menyampaikan pesan sehingga dapat dipahami, diterima, dan terhubung dengan audiens.
Hal tersebut menjadi salah satu poin yang dibahas komedian dan pembicara Choki Pardede dalam konten Youtube Malaka
mengenai kemampuan public speaking. Menurutnya, berbicara dan didengar pada saat yang bersamaan merupakan sebuah keterampilan yang perlu dilatih.
Salah satu tantangan terbesar justru muncul sebelum seseorang membuka mulut untuk berbicara.
Rasa Takut Ada di Kepala
Bagi banyak orang, tampil di depan umum sudah cukup membuat gugup. Berbagai skenario buruk pun bermunculan di kepala: takut salah bicara, tiba-tiba gagap, lupa materi, atau terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Choki menilai rasa takut tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bahkan, dalam kadar tertentu, rasa gugup justru bisa menjadi sesuatu yang positif.
Menurutnya, rasa takut menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap apa yang akan dilakukannya. Karena itu, tujuan utama bukan menghilangkan rasa takut, melainkan mengelolanya agar tidak menguasai diri.
Kuncinya adalah persiapan.
Menguasai materi dan melakukan latihan berulang kali dapat membantu mengurangi ketakutan ketika seseorang akhirnya berdiri di depan audiens.
Dengan kata lain, semakin siap seseorang, semakin kecil kemungkinan rasa takut mengambil alih kendali.
Kenali Siapa yang Mendengarkan
Setelah mampu mengendalikan rasa gugup, ada satu hal yang tidak kalah penting: kenali audiens.
Cara berbicara kepada mahasiswa tentu berbeda dengan cara berbicara kepada petani, pekerja, anak-anak, atau kelompok profesional.
Choki mengingatkan agar pembicara tidak terjebak menggunakan istilah-istilah rumit hanya demi terlihat pintar. Sebab, tujuan utama public speaking bukan membuat audiens kagum terhadap seberapa banyak istilah yang dikuasai pembicara.
Tujuan utamanya adalah pesan sampai.
Bahasa yang sederhana tetapi dipahami audiens jauh lebih efektif dibandingkan istilah yang terdengar canggih namun justru membuat orang kehilangan konteks.
Karena itu, sebelum berbicara, seorang pembicara perlu bertanya: Saya sedang berbicara dengan siapa? Apa yang mereka pahami? Bahasa seperti apa yang paling dekat dengan mereka?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah komunikasi.
Jangan Berusaha Menjadi Orang Lain
Hal berikutnya yang disoroti Choki adalah pentingnya menjadi diri sendiri.
Setelah menguasai materi dan memahami audiens, pembicara tidak perlu terlalu sibuk membangun persona yang dibuat-buat.
Justru, keaslian atau autentisitas dapat membuat komunikasi terasa lebih manusiawi.
Pembicara yang terlalu kaku, terlalu formal, atau berbicara seperti membaca teks dapat menciptakan jarak dengan audiens.
Sebaliknya, ketika seseorang berbicara dengan gaya yang natural, audiens akan lebih mudah merasa terhubung.
Jadilah diri sendiri.
Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti berbicara tanpa arah. Pembicara tetap harus memiliki tujuan dan pesan yang jelas.
Public Speaking Bukan Situasi yang Selalu Sempurna
Di dunia nyata, presentasi tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Sound system bisa bermasalah. Audiens bisa kehilangan fokus. Bahkan, situasi yang sama sekali tidak berkaitan dengan materi dapat muncul di tengah pembicaraan.
Dalam kondisi seperti itu, pembicara tidak harus panik.
Choki menyarankan agar pembicara mampu membaca situasi dan mengadaptasi apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam dunia komedi, kemampuan mengangkat sesuatu yang sedang terjadi di depan mata dikenal sebagai membahas “elephant in the room”.
Misalnya, ketika sedang memberikan penyuluhan kepada para ibu dan tiba-tiba terdengar bayi menangis. Daripada berpura-pura tidak mendengar dan terus berbicara, pembicara dapat mengakui situasi tersebut, menunggu sampai kondisinya lebih kondusif, lalu melanjutkan materi.
Hal sederhana seperti itu justru dapat membuat suasana lebih cair.
Bagi pembicara yang belum terbiasa berimprovisasi, solusinya adalah melakukan mitigasi sebelum tampil.
Bayangkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi dan siapkan responsnya.
Jika berbicara di depan mahasiswa, misalnya, pikirkan kemungkinan seperti perangkat suara bermasalah, audiens datang terlambat, atau ada gangguan selama presentasi.
Persiapan semacam ini membuat pembicara tidak mudah kehilangan kendali ketika sesuatu yang tidak direncanakan benar-benar terjadi.
Jangan Biarkan Audiens Mengantuk
Selain isi materi, cara menyampaikannya juga menentukan keberhasilan komunikasi.
Choki menekankan pentingnya body content, termasuk tetap setia pada tema, menggunakan intonasi yang tepat, dan menjaga perhatian audiens.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pembicara keluar dari topik.
Awalnya membahas satu persoalan, tetapi beberapa menit kemudian pembicaraan justru berubah menjadi cerita kehidupan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan materi.
Akibatnya, audiens kehilangan arah.
Karena itu, pembicara harus tetap berpegang pada poin utama yang ingin disampaikan.
Di sisi lain, intonasi juga tidak boleh monoton. Suara yang datar berpotensi membuat audiens kehilangan perhatian.
Namun, bukan berarti pembicara harus berteriak atau menggunakan intonasi berlebihan. Yang dibutuhkan adalah variasi yang natural sesuai dengan pesan dan kondisi audiens.
Kontak Mata Juga Punya Teknik
Kontak mata menjadi bagian penting dalam membangun hubungan dengan audiens.
Tatapan yang tepat dapat memberikan kesan bahwa pembicara benar-benar berkomunikasi dengan orang yang ada di hadapannya.
Namun, kontak mata juga perlu dilakukan secara wajar. Terlalu lama menatap satu orang justru bisa menimbulkan kesan yang berbeda dari yang dimaksudkan.
Artinya, public speaking bukan hanya tentang apa yang keluar dari mulut, tetapi juga bagaimana bahasa tubuh, intonasi, ekspresi, dan kontak mata bekerja bersama untuk menyampaikan pesan.
Pada Akhirnya, Semua Kembali ke Latihan
Sebagus apa pun teori yang dipelajari, kemampuan public speaking tidak akan berkembang jika tidak pernah dipraktikkan.
Choki menekankan bahwa latihan merupakan kunci.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah berbicara di depan cermin. Meskipun terdengar klasik, latihan tersebut membantu seseorang mengenali cara berbicara, ekspresi, serta penyampaian materi.
Karena itu, jangan menunggu sampai merasa percaya diri untuk mulai berbicara.
Berlatihlah terlebih dahulu, karena rasa percaya diri justru sering kali muncul setelah seseorang terbiasa melakukannya.
Pada akhirnya, kemampuan seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa pintar dirinya dalam bidang tertentu. Pengetahuan yang hebat akan lebih bernilai ketika mampu disampaikan kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami.
Sebab, memiliki sesuatu untuk dikatakan adalah satu hal.
Mampu membuat orang lain mau mendengarkan adalah kemampuan yang berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar