Kamis, 26 Februari 2026

Lawan Diskriminasi ODGJ di Dunia Kerja: Memahami, Mendampingi, dan Memberi Kesempatan

 



Program Sketsa Keluarga Indonesia kembali menghadirkan perbincangan penting tentang isu sosial yang kerap luput dari perhatian: melawan diskriminasi terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di dunia kerja. Bersama perwakilan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan dr. Maryatul Choirah, SpKJ yang berpraktik di Rumah Sakit Fatmawati, dibahas secara lugas bagaimana stigma masih menjadi tantangan besar bagi ODGJ untuk memperoleh kesempatan kerja yang setara. Padahal, seperti individu lainnya, mereka memiliki hak, potensi, dan kemampuan untuk produktif.

Secara definisi, ODGJ adalah individu yang mengalami gangguan pada pikiran, perasaan, dan perilaku yang terdiagnosis sesuai pedoman medis. Gangguan ini memiliki spektrum luas, mulai dari gangguan ringan seperti kecemasan dan depresi, hingga gangguan berat seperti skizofrenia. Tidak semua ODGJ menunjukkan gejala yang tampak mencolok. Banyak di antaranya mampu berfungsi secara normal, terutama jika mendapatkan penanganan yang tepat, baik melalui pengobatan (psikofarmaka) maupun terapi psikologis. Karena itu, anggapan bahwa ODGJ selalu identik dengan “orang terlantar” atau tidak mampu bekerja adalah kekeliruan yang perlu diluruskan.



Stigma di lingkungan kerja biasanya muncul karena kurangnya pemahaman. Label negatif, anggapan tidak kompeten, hingga pengucilan sosial sering kali terjadi bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena prasangka. Padahal, secara hukum, negara menjamin hak ODGJ untuk bekerja dan memperoleh perlakuan yang adil. Tantangannya terletak pada komunikasi dan penyesuaian peran. Perusahaan tentu memiliki standar dan kebutuhan tertentu, namun dengan pendekatan yang tepat, banyak ODGJ yang dapat ditempatkan sesuai kompetensinya dan bekerja secara optimal.

Kunci agar ODGJ dapat produktif adalah stabilitas kondisi mental, dukungan keluarga, serta lingkungan kerja yang suportif. Stabil bukan berarti tanpa pengobatan, melainkan kondisi yang terkontrol sehingga individu mampu mengelola stres dan tanggung jawab pekerjaan. Keterbukaan, bila memungkinkan, juga dapat membantu atasan memahami kebutuhan khusus yang mungkin diperlukan. Dukungan ini penting karena gangguan kejiwaan, seperti penyakit fisik lainnya, dapat kambuh jika tidak ditangani secara komprehensif—baik dari sisi biologis, psikologis, maupun sosial.

Pada akhirnya, melawan diskriminasi terhadap ODGJ di dunia kerja bukan hanya soal memberi kesempatan, tetapi juga soal membangun kesadaran bersama. ODGJ bukanlah label yang menghapus kemampuan seseorang. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka dapat pulih, stabil, dan berprestasi. Seperti semangat Sketsa Keluarga Indonesia, memperkuat keluarga dan lingkungan kerja yang inklusif berarti turut memperkokoh Indonesia melalui empati, pemahaman, dan kolaborasi.

Restorative Justice di Era KUHP Baru: Saatnya Hukum Mengedepankan Pemulihan



Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional menandai babak baru dalam sistem hukum Indonesia. KUHP baru ini disusun dengan semangat kemandirian bangsa serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kemanfaatan hukum. Salah satu pendekatan penting yang semakin ditegaskan dalam era ini adalah restorative justice atau keadilan restoratif, yaitu model penyelesaian perkara pidana yang tidak semata-mata berorientasi pada penghukuman, melainkan pada pemulihan hubungan dan tanggung jawab moral pelaku.

Restorative justice merupakan mekanisme penyelesaian perkara pidana dengan melibatkan pelaku, korban, dan keluarga kedua belah pihak untuk bermusyawarah mencari solusi yang adil. Pendekatan ini bertujuan memperbaiki keretakan sosial akibat tindak pidana serta mengembalikan keseimbangan yang terganggu. Dalam praktiknya, pelaku didorong untuk mengakui kesalahan, menunjukkan penyesalan, serta bertanggung jawab secara nyata, baik melalui penggantian kerugian maupun bentuk pemulihan lain yang disepakati bersama.

Namun, tidak semua tindak pidana dapat diselesaikan melalui pendekatan ini. Restorative justice umumnya diterapkan pada tindak pidana ringan dengan ancaman hukuman yang tidak berat dan bukan merupakan pengulangan kejahatan. Kasus seperti pencurian ringan, pencemaran nama baik, atau kekerasan ringan dalam rumah tangga masih dapat dipertimbangkan untuk diselesaikan melalui mediasi. Sebaliknya, tindak pidana berat seperti pembunuhan, korupsi, atau kekerasan yang menimbulkan luka serius tetap harus diproses melalui jalur peradilan formal.

Salah satu manfaat besar penerapan restorative justice adalah membantu mengatasi persoalan overkapasitas lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Dengan menyelesaikan perkara-perkara ringan melalui mediasi dan kesepakatan damai, jumlah orang yang harus menjalani pidana penjara dapat ditekan. Selain itu, pendekatan ini juga mencegah rusaknya hubungan sosial yang sebelumnya baik, misalnya antara tetangga, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga sendiri.

Pada akhirnya, restorative justice mencerminkan wajah hukum yang lebih humanis dan berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar pembalasan. Hukum tidak hanya mengejar kepastian, tetapi juga keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Di era KUHP baru, pendekatan ini menjadi langkah progresif untuk membangun sistem hukum yang lebih bijaksana, adil, serta selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Rabu, 25 Februari 2026

Child Grooming Mengintai: Sudahkah Hukum dan Keluarga Siap Melindungi Anak?

 


Kasus child grooming semakin marak dan kerap terjadi tanpa disadari, baik melalui interaksi langsung maupun lewat media sosial. Modusnya tidak selalu disertai kekerasan fisik, melainkan dimulai dari pendekatan emosional, bujuk rayu, hingga manipulasi psikologis yang membuat anak merasa aman dan percaya pada pelaku. Karena anak belum memiliki kematangan dalam mengambil keputusan, terutama terkait relasi seksual, praktik ini tetap tergolong tindak pidana meskipun tampak seperti “suka sama suka”.

Di Indonesia, perlindungan terhadap anak sebenarnya telah diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Perbuatan membujuk, menipu, atau memanipulasi anak untuk tujuan seksual dapat dijerat pidana berat, bahkan tanpa harus ada unsur kekerasan fisik. Selain hukuman penjara, pelaku juga dapat dikenai restitusi untuk membantu pemulihan korban, meski dalam praktiknya pembuktian—terutama di ranah digital—sering menjadi tantangan tersendiri.

Dampak child grooming tidak hanya terjadi sesaat, tetapi bisa membekas dalam jangka panjang. Korban dapat mengalami trauma psikologis, gangguan emosional, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun relasi di masa depan. Karena itu, penegakan hukum saja tidak cukup; pemulihan psikologis dan dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam memastikan anak benar-benar pulih dan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya dengan sehat.

Pada akhirnya, perlindungan terbaik tetap dimulai dari keluarga. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan edukasi seks sesuai usia, serta mendampingi aktivitas digital anak. Hukum memang menjadi payung perlindungan, tetapi benteng pertama yang menjaga anak dari bahaya grooming adalah rumah yang aman, hangat, dan penuh kepercayaan.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Polyworking: Tren Cerdas atau Sekadar Ikut Arus?





Belakangan ini, istilah polyworking semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan pekerja urban. Di tengah naiknya kebutuhan hidup, tekanan ekonomi, dan gaya hidup yang terus berkembang, banyak orang mulai mengambil lebih dari satu pekerjaan—bahkan dalam waktu yang bersamaan.

Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan: polyworking itu langkah cerdas atau sekadar ikut-ikutan agar terlihat produktif dan ambisius?

Dalam sebuah diskusi bersama praktisi Human Resource Development, Anung Prakoso, dibahas secara mendalam tentang tren ini dari berbagai sudut pandang—karyawan, perusahaan, hingga keluarga. 

Apa Itu Polyworking?

Polyworking adalah praktik bekerja di dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang sama. Ini berbeda dengan side hustle atau kerja sampingan yang dilakukan di luar jam kerja utama.

Jika seseorang bekerja di perusahaan A pukul 09.00–17.00 WIB, lalu di waktu yang sama mengerjakan proyek untuk perusahaan B, maka itulah yang disebut polyworking.

Perkembangan teknologi menjadi pendorong utama. Sistem kerja remote, fleksibilitas waktu, hingga akses proyek global membuat seseorang bisa:

  • Bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa harus hadir fisik

  • Mengambil proyek freelance bersamaan dengan pekerjaan utama

  • Mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber sekaligus

Mengapa Polyworking Semakin Populer?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:

1. Tekanan Ekonomi

Inflasi, kenaikan kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya pendidikan, dan gaya hidup membuat banyak orang merasa satu sumber penghasilan saja tidak cukup.

2. Perubahan Pola Pikir Generasi

Jika dulu loyalitas pada satu perusahaan dianggap ideal, kini generasi milenial dan Gen Z lebih terbuka pada diversifikasi pendapatan. Bagi mereka, satu pekerjaan terasa “kurang ambisius”.

3. Fleksibilitas Dunia Kerja

Banyak perusahaan kini tidak lagi menuntut kehadiran fisik. Yang penting target tercapai. Ini membuka ruang untuk mengerjakan pekerjaan lain secara paralel.

Dari Sisi Perusahaan: Sah atau Tidak?

Menurut perspektif HR, polyworking bisa menjadi persoalan etika jika:

  • Dilakukan tanpa izin perusahaan

  • Menggunakan jam kerja untuk pekerjaan lain

  • Berpotensi menimbulkan konflik kepentingan

  • Ada risiko kebocoran informasi

Perusahaan membayar gaji, benefit, dan fasilitas berdasarkan kesepakatan jam kerja. Jika jam tersebut digunakan untuk kepentingan lain tanpa transparansi, ini bisa dianggap pelanggaran.

Karena itu, penting untuk:

✔️ Memastikan ada izin atau aturan yang jelas
✔️ Tidak melanggar kontrak kerja
✔️ Tidak merugikan perusahaan utama

Jika ingin lebih fleksibel, opsi seperti freelance atau part-time sering kali lebih aman dibanding menjadi karyawan tetap yang terikat kontrak penuh.

Apakah Polyworking Bisa Maksimal?

Secara teori, mungkin.
Secara praktik, sangat menantang.

Mengelola dua hingga tiga pekerjaan dalam waktu bersamaan membutuhkan:

  • Time management yang sangat baik

  • Skala prioritas yang jelas

  • Fokus tinggi

  • Disiplin ekstrem

Masalahnya, manusia punya keterbatasan: waktu, energi, dan kesehatan.

Sering kali yang terlihat di media sosial hanyalah kesibukan dan pencapaian. Namun di balik itu, bisa saja ada kelelahan, stres, bahkan relasi keluarga yang terganggu.

Dampak terhadap Kesehatan dan Keluarga

Ini bagian yang sering diabaikan.

Jika mulai muncul tanda-tanda seperti:

  • Mudah stres

  • Kurang tidur

  • Hubungan keluarga renggang

  • Tidak punya waktu untuk diri sendiri

  • Ibadah atau hobi terbengkalai

Itu bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi ulang.

Hidup bukan hanya tentang uang. Tidak ada “spare part” untuk kesehatan fisik maupun mental. Uang bisa dicari kembali, tetapi waktu dan kesehatan tidak bisa diganti.

Tren Cerdas atau Sekadar Gaya?

Jawabannya: tergantung.

✔️ Bisa jadi tren cerdas jika:

  • Dilakukan dengan izin dan etika yang benar

  • Tidak mengorbankan kualitas kerja

  • Tidak merusak kesehatan

  • Masih ada keseimbangan hidup

❌ Bisa jadi sekadar ikut arus jika:

  • Hanya untuk validasi sosial

  • Demi terlihat sibuk dan ambisius

  • Mengabaikan keluarga dan kesehatan

  • Tidak punya manajemen waktu yang baik

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 23 Februari 2026

Belajar Psikologi untuk Apa? Ini Jawaban yang Perlu Kamu Tahu

 



Minat terhadap jurusan psikologi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang tertarik mempelajari psikologi karena ingin memahami diri sendiri, membantu orang lain, atau tertarik dengan isu kesehatan mental yang semakin sering dibahas. Namun, sebenarnya belajar psikologi itu untuk apa?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Di dalamnya, mahasiswa tidak hanya belajar tentang emosi dan kepribadian, tetapi juga tentang perkembangan manusia, relasi sosial, dinamika keluarga, hingga aspek biologis yang memengaruhi perilaku. Psikologi membantu kita memahami mengapa seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara tertentu. Ilmu ini tidak sekadar tentang “membaca pikiran”, melainkan tentang memahami pola dan proses di balik perilaku manusia secara ilmiah.

Perlu dipahami juga bahwa lulusan S1 Psikologi belum otomatis menjadi psikolog. Untuk bisa praktik dan memberikan layanan konseling atau terapi, seseorang harus melanjutkan ke pendidikan profesi serta memiliki sertifikasi sesuai aturan yang berlaku. Ini penting agar layanan yang diberikan tetap etis, aman, dan profesional. Artinya, belajar psikologi adalah proses panjang yang menuntut tanggung jawab besar.

Menariknya, belajar psikologi tidak otomatis membuat seseorang langsung sehat mental. Pengetahuan memang meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), tetapi kesehatan mental tetap membutuhkan proses pengolahan emosi, refleksi, dan terkadang bantuan profesional. Banyak orang yang belajar psikologi justru semakin menyadari luka atau pola tidak sehat dalam dirinya. Namun kesadaran itulah langkah awal menuju pertumbuhan dan pemulihan.

Di era digital saat ini, banyak orang mencari jawaban tentang kesehatan mental melalui internet atau bahkan AI. Teknologi memang bisa menjadi alat bantu untuk mendapatkan informasi awal, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan antarmanusia. Proses konseling dan terapi tetap membutuhkan empati, koneksi, dan kehadiran yang autentik—sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh manusia.

Pada akhirnya, belajar psikologi bukan hanya soal karier. Psikologi membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam, membangun relasi yang lebih sehat, serta memahami orang lain dengan empati. Ilmu ini relevan bukan hanya bagi calon psikolog, tetapi bagi siapa pun yang ingin hidup lebih sadar, dewasa secara emosional, dan mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Perselingkuhan dan Versi Diri yang Hilang: Memahami Akar Masalah dalam Pernikahan




Perselingkuhan bukan sekadar hadirnya orang ketiga dalam sebuah pernikahan, melainkan pelanggaran terhadap komitmen yang telah disepakati bersama. Ketika dua orang menikah, mereka membangun janji tentang kesetiaan, keterbukaan, dan kebersamaan. Namun dalam kenyataannya, sebagian pasangan terjebak dalam hubungan rahasia yang diawali dari kedekatan emosional, komunikasi yang intens, dan hal-hal yang disembunyikan. Kerahasiaan inilah yang perlahan merusak fondasi utama pernikahan: kepercayaan.

Di balik banyak kasus perselingkuhan, terdapat apa yang disebut sebagai “versi diri yang hilang”. Seseorang mungkin merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam pernikahan. Ia merindukan perhatian, penghargaan, dukungan, atau keintiman yang tidak ia rasakan. Tidak jarang, hal ini berakar dari luka masa kecil atau trauma yang belum terselesaikan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak dipahami atau tidak terkomunikasikan dengan baik, sebagian orang mencari pemenuhan di luar hubungan resminya.

Kurangnya komunikasi yang sehat menjadi salah satu pemicu utama. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan—seolah-olah pasangan harus menjadi penyembuh semua luka batin—juga memperberat keadaan. Padahal, pasangan bukanlah terapis pribadi. Pernikahan yang sehat menuntut dua individu yang sama-sama mau bertumbuh, bukan saling menuntut tanpa refleksi diri. Tanpa kesadaran dan kemauan untuk memproses masalah, jarak emosional bisa semakin melebar dan membuka celah bagi perselingkuhan.

Meski demikian, pernikahan yang terluka masih memiliki peluang untuk dipulihkan. Dengan kejujuran, tanggung jawab, serta kesediaan mencari bantuan profesional, banyak pasangan mampu membangun kembali hubungan yang lebih kuat. Bagi pihak yang terluka, proses pengampunan sering menjadi bagian penting dalam pemulihan, meski tidak mudah dan membutuhkan waktu. Pada akhirnya, menjaga pernikahan berarti terus merawat komunikasi, saling menghargai, dan berkomitmen untuk bertumbuh bersama demi menjaga kepercayaan yang telah dibangun. 

sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Sabtu, 21 Februari 2026

Ramah Tapi Berbahaya: Mengenal Child Grooming yang Mengintai Anak Kita

 




Banyak orang tua membayangkan ancaman terhadap anak datang dari sosok asing yang mencurigakan. Padahal, child grooming sering hadir dengan wajah yang justru terlihat baik, perhatian, dan penuh empati. Pelaku membangun kedekatan secara perlahan, membuat anak merasa dimengerti, dihargai, bahkan dianggap “spesial”. Dari situlah proses manipulasi dimulai—tanpa bentakan, tanpa paksaan, tanpa disadari. Inilah yang membuat child grooming begitu berbahaya: ia bekerja diam-diam, menyusup melalui rasa percaya.

Child grooming bukan peristiwa instan, melainkan proses bertahap. Pelaku biasanya memberi perhatian berlebihan, sering menghubungi, memberi hadiah, atau menjadi tempat curhat yang tampak paling memahami. Setelah kedekatan terbangun, batasan mulai digeser sedikit demi sedikit. Anak bisa diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari orang tua, atau dibuat merasa bersalah jika tidak menuruti permintaan. Karena secara emosional anak—terutama usia remaja awal—belum sepenuhnya matang, mereka lebih mudah terjebak dalam relasi yang terasa nyaman tetapi sebenarnya manipulatif.

Di era digital, ruang grooming semakin luas. Media sosial, gim online, hingga aplikasi percakapan menjadi pintu masuk yang sulit diawasi sepenuhnya. Pelaku bisa berpura-pura seusia, menggunakan identitas palsu, atau tampil sebagai mentor yang suportif. Tanda-tandanya sering kali samar: anak menjadi lebih tertutup, defensif saat ditanya tentang teman online-nya, atau menunjukkan perubahan emosi yang drastis. Tanpa komunikasi yang hangat di rumah, sinyal-sinyal ini mudah terlewat.

Karena itu, perlindungan terbaik bukan sekadar pembatasan gawai, melainkan kedekatan emosional. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi. Ajarkan mereka mengenali rasa tidak nyaman, berani berkata “tidak”, dan memahami bahwa rahasia yang membuat gelisah bukanlah rahasia yang harus disimpan. Saat rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang dan berbagi, peluang bagi pelaku grooming untuk menyusup akan semakin kecil.


Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Lawan Diskriminasi ODGJ di Dunia Kerja: Memahami, Mendampingi, dan Memberi Kesempatan

  Program Sketsa Keluarga Indonesia kembali menghadirkan perbincangan penting tentang isu sosial yang kerap luput dari perhatian: melawan ...