Selasa, 15 September 2026

Ini Rahasia Agar Orang Mau Mendengarkan, Ala Choki Pardede


Semua orang bisa berbicara. Namun, tidak semua orang mampu membuat orang lain benar-benar mendengarkan.

Kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking bukan sekadar persoalan berani tampil di hadapan banyak orang. Lebih dari itu, kemampuan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menyampaikan pesan sehingga dapat dipahami, diterima, dan terhubung dengan audiens.

Hal tersebut menjadi salah satu poin yang dibahas komedian dan pembicara Choki Pardede dalam konten Youtube Malaka

mengenai kemampuan public speaking. Menurutnya, berbicara dan didengar pada saat yang bersamaan merupakan sebuah keterampilan yang perlu dilatih.

Salah satu tantangan terbesar justru muncul sebelum seseorang membuka mulut untuk berbicara.

Rasa Takut Ada di Kepala

Bagi banyak orang, tampil di depan umum sudah cukup membuat gugup. Berbagai skenario buruk pun bermunculan di kepala: takut salah bicara, tiba-tiba gagap, lupa materi, atau terjadi sesuatu yang tidak terduga.

Choki menilai rasa takut tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bahkan, dalam kadar tertentu, rasa gugup justru bisa menjadi sesuatu yang positif.

Menurutnya, rasa takut menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap apa yang akan dilakukannya. Karena itu, tujuan utama bukan menghilangkan rasa takut, melainkan mengelolanya agar tidak menguasai diri.

Kuncinya adalah persiapan.

Menguasai materi dan melakukan latihan berulang kali dapat membantu mengurangi ketakutan ketika seseorang akhirnya berdiri di depan audiens.

Dengan kata lain, semakin siap seseorang, semakin kecil kemungkinan rasa takut mengambil alih kendali.

Kenali Siapa yang Mendengarkan

Setelah mampu mengendalikan rasa gugup, ada satu hal yang tidak kalah penting: kenali audiens.

Cara berbicara kepada mahasiswa tentu berbeda dengan cara berbicara kepada petani, pekerja, anak-anak, atau kelompok profesional.

Choki mengingatkan agar pembicara tidak terjebak menggunakan istilah-istilah rumit hanya demi terlihat pintar. Sebab, tujuan utama public speaking bukan membuat audiens kagum terhadap seberapa banyak istilah yang dikuasai pembicara.

Tujuan utamanya adalah pesan sampai.

Bahasa yang sederhana tetapi dipahami audiens jauh lebih efektif dibandingkan istilah yang terdengar canggih namun justru membuat orang kehilangan konteks.

Karena itu, sebelum berbicara, seorang pembicara perlu bertanya: Saya sedang berbicara dengan siapa? Apa yang mereka pahami? Bahasa seperti apa yang paling dekat dengan mereka?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah komunikasi.

Jangan Berusaha Menjadi Orang Lain

Hal berikutnya yang disoroti Choki adalah pentingnya menjadi diri sendiri.

Setelah menguasai materi dan memahami audiens, pembicara tidak perlu terlalu sibuk membangun persona yang dibuat-buat.

Justru, keaslian atau autentisitas dapat membuat komunikasi terasa lebih manusiawi.

Pembicara yang terlalu kaku, terlalu formal, atau berbicara seperti membaca teks dapat menciptakan jarak dengan audiens.

Sebaliknya, ketika seseorang berbicara dengan gaya yang natural, audiens akan lebih mudah merasa terhubung.

Jadilah diri sendiri.

Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti berbicara tanpa arah. Pembicara tetap harus memiliki tujuan dan pesan yang jelas.

Public Speaking Bukan Situasi yang Selalu Sempurna

Di dunia nyata, presentasi tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Sound system bisa bermasalah. Audiens bisa kehilangan fokus. Bahkan, situasi yang sama sekali tidak berkaitan dengan materi dapat muncul di tengah pembicaraan.

Dalam kondisi seperti itu, pembicara tidak harus panik.

Choki menyarankan agar pembicara mampu membaca situasi dan mengadaptasi apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam dunia komedi, kemampuan mengangkat sesuatu yang sedang terjadi di depan mata dikenal sebagai membahas “elephant in the room”.

Misalnya, ketika sedang memberikan penyuluhan kepada para ibu dan tiba-tiba terdengar bayi menangis. Daripada berpura-pura tidak mendengar dan terus berbicara, pembicara dapat mengakui situasi tersebut, menunggu sampai kondisinya lebih kondusif, lalu melanjutkan materi.

Hal sederhana seperti itu justru dapat membuat suasana lebih cair.

Bagi pembicara yang belum terbiasa berimprovisasi, solusinya adalah melakukan mitigasi sebelum tampil.

Bayangkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi dan siapkan responsnya.

Jika berbicara di depan mahasiswa, misalnya, pikirkan kemungkinan seperti perangkat suara bermasalah, audiens datang terlambat, atau ada gangguan selama presentasi.

Persiapan semacam ini membuat pembicara tidak mudah kehilangan kendali ketika sesuatu yang tidak direncanakan benar-benar terjadi.

Jangan Biarkan Audiens Mengantuk

Selain isi materi, cara menyampaikannya juga menentukan keberhasilan komunikasi.

Choki menekankan pentingnya body content, termasuk tetap setia pada tema, menggunakan intonasi yang tepat, dan menjaga perhatian audiens.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pembicara keluar dari topik.

Awalnya membahas satu persoalan, tetapi beberapa menit kemudian pembicaraan justru berubah menjadi cerita kehidupan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan materi.

Akibatnya, audiens kehilangan arah.

Karena itu, pembicara harus tetap berpegang pada poin utama yang ingin disampaikan.

Di sisi lain, intonasi juga tidak boleh monoton. Suara yang datar berpotensi membuat audiens kehilangan perhatian.

Namun, bukan berarti pembicara harus berteriak atau menggunakan intonasi berlebihan. Yang dibutuhkan adalah variasi yang natural sesuai dengan pesan dan kondisi audiens.

Kontak Mata Juga Punya Teknik

Kontak mata menjadi bagian penting dalam membangun hubungan dengan audiens.

Tatapan yang tepat dapat memberikan kesan bahwa pembicara benar-benar berkomunikasi dengan orang yang ada di hadapannya.

Namun, kontak mata juga perlu dilakukan secara wajar. Terlalu lama menatap satu orang justru bisa menimbulkan kesan yang berbeda dari yang dimaksudkan.

Artinya, public speaking bukan hanya tentang apa yang keluar dari mulut, tetapi juga bagaimana bahasa tubuh, intonasi, ekspresi, dan kontak mata bekerja bersama untuk menyampaikan pesan.

Pada Akhirnya, Semua Kembali ke Latihan

Sebagus apa pun teori yang dipelajari, kemampuan public speaking tidak akan berkembang jika tidak pernah dipraktikkan.

Choki menekankan bahwa latihan merupakan kunci.

Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah berbicara di depan cermin. Meskipun terdengar klasik, latihan tersebut membantu seseorang mengenali cara berbicara, ekspresi, serta penyampaian materi.

Karena itu, jangan menunggu sampai merasa percaya diri untuk mulai berbicara.

Berlatihlah terlebih dahulu, karena rasa percaya diri justru sering kali muncul setelah seseorang terbiasa melakukannya.

Pada akhirnya, kemampuan seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa pintar dirinya dalam bidang tertentu. Pengetahuan yang hebat akan lebih bernilai ketika mampu disampaikan kepada orang lain dengan cara yang mudah dipahami.

Sebab, memiliki sesuatu untuk dikatakan adalah satu hal.

Mampu membuat orang lain mau mendengarkan adalah kemampuan yang berbeda.

Senin, 14 September 2026

Bukan Hanya Pandai Bicara, Kemampuan Mendengar Jadi Kunci Komunikasi

 


Kemampuan berkomunikasi tidak hanya berkaitan dengan seberapa baik seseorang menyampaikan gagasan, tetapi juga seberapa mampu ia mendengarkan orang lain. Terlalu cepat menyimpulkan pembicaraan justru dapat menjadi salah satu penyebab munculnya miskomunikasi, konflik, hingga pertikaian.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang kerap merasa sudah memahami apa yang akan disampaikan lawan bicara sebelum orang tersebut selesai berbicara. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru.

“Manusia diciptakan Allah hanya memiliki satu mulut tapi dua telinga,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi tersebut. Maknanya, manusia diajak untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Kemampuan mendengar juga menjadi penting dalam membangun dialog yang sehat. Dalam berbagai perdebatan yang ditampilkan di televisi, misalnya, sering kali orang justru sibuk mempertahankan pendapatnya dan saling memotong pembicaraan.

Akibatnya, yang terjadi bukan dialog untuk memahami satu sama lain, melainkan adu argumentasi tanpa ada pihak yang benar-benar mendengarkan.

Miskomunikasi dan konflik dapat terjadi ketika salah satu pihak dalam komunikasi tidak memberikan kesempatan kepada pihak lainnya untuk menyampaikan gagasan dan argumentasinya secara utuh.

Untuk itu, seseorang perlu memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyelesaikan pembicaraannya sebelum memberikan respons. Jangan terburu-buru menyimpulkan maksud seseorang hanya berdasarkan beberapa kata pertama yang didengar.

Konsep tersebut juga dikaitkan dengan kemampuan dalam bernegosiasi. Dalam sebuah negosiasi, orang yang terlalu banyak berbicara belum tentu menjadi pihak yang paling diuntungkan. Sebaliknya, kemampuan untuk diam dan mendengarkan dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memperoleh lebih banyak informasi.

Mendengarkan juga bukan berarti seseorang kalah atau kurang pintar. Justru dengan mendengarkan, seseorang berkesempatan mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan perspektif baru dari orang lain.

“Kalau kita ngomong orang yang menyerap ilmu kita. Tetapi kalau kita mendengar kita menyerap ilmu orang”.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia komunikasi dan media yang berlangsung cepat. Seseorang dituntut untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan, termasuk dengan mendengarkan orang-orang dari generasi yang lebih muda.

Pengalaman di dunia televisi maupun dunia digital juga menunjukkan bahwa perubahan berlangsung dinamis. Apa yang menjadi tren hari ini belum tentu menjadi tren pada pekan berikutnya. Karena itu, keterbukaan untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan beradaptasi.

Pada akhirnya, kemampuan komunikasi yang baik seharusnya tidak hanya menghasilkan seorang public speaker yang mampu berbicara di depan banyak orang, tetapi juga seorang pendengar yang baik.

Sebab, jika berbicara membuat orang lain mendapatkan ilmu dari kita, maka mendengarkan memberikan kesempatan bagi kita untuk mendapatkan ilmu dari orang lain.

Dengan demikian, komunikasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara atau siapa yang memenangkan perdebatan. Komunikasi adalah tentang bagaimana setiap pihak saling memberikan ruang untuk berbicara, mendengar, memahami, dan belajar satu sama lain.

Rabu, 11 Maret 2026

Pentingnya Kesadaran tentang Kesehatan Mental

 


Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting dalam kehidupan modern. Tekanan pekerjaan, masalah sosial, hingga pengaruh media sosial membuat banyak orang mengalami stres bahkan gangguan mental.

Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami tanda-tanda gangguan mental dan bagaimana cara meresponsnya dengan benar. Ketika melihat seseorang mengalami perubahan emosi atau perilaku, reaksi yang muncul sering kali adalah panik.

Padahal, yang dibutuhkan sebenarnya adalah kepekaan dan pemahaman, bukan kepanikan.

Dengan memiliki pengetahuan tentang kesehatan mental, kita bisa membantu diri sendiri maupun orang lain menghadapi kondisi tersebut dengan lebih baik.

Perbedaan Stres Biasa dan Gangguan Mental

Tidak semua stres berarti gangguan mental. Stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan hidup.

Namun, stres dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak dikelola dengan baik.

Stres Biasa

Beberapa ciri stres yang masih tergolong normal antara lain:

  • Muncul karena tekanan pekerjaan atau masalah tertentu

  • Bersifat sementara

  • Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan

Biasanya stres akan berkurang setelah masalah yang dihadapi mulai terselesaikan.

Gangguan Mental

Sementara itu, gangguan mental memiliki karakteristik yang berbeda:

  • Emosi negatif berlangsung lama

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari

  • Membuat seseorang kehilangan motivasi atau energi

Para ahli sering menggunakan indikator dua minggu sebagai batas awal. Jika perasaan sedih, cemas, atau perubahan perilaku berlangsung lebih dari dua minggu, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Tanda-Tanda Awal Gangguan Mental yang Perlu Diketahui

Mengenali ciri gangguan mental sejak dini sangat penting agar seseorang bisa mendapatkan bantuan lebih cepat.

Berikut beberapa tanda yang sering muncul:

1. Perubahan emosi yang drastis

Seseorang bisa tiba-tiba menjadi sangat sedih, mudah marah, atau emosinya tidak stabil.

2. Kehilangan minat pada aktivitas

Hal-hal yang dulu disukai terasa tidak lagi menarik.

3. Perubahan pola tidur

Tidur terlalu lama atau justru mengalami insomnia bisa menjadi tanda tekanan psikologis.

4. Menarik diri dari lingkungan sosial

Orang yang mengalami masalah mental sering menghindari interaksi sosial.

5. Perubahan perilaku sehari-hari

Rutinitas yang biasanya dilakukan menjadi terabaikan.

Jika gejala tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya segera mencari bantuan atau dukungan.

Mengapa Masalah Kesehatan Mental Semakin Meningkat?

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah orang yang mengalami masalah kesehatan mental terus meningkat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

1. Tekanan sosial

Pergaulan dan tuntutan lingkungan dapat memicu stres.

2. Social comparison

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial, dapat menurunkan rasa percaya diri.

3. Tekanan hidup

Masalah finansial, pekerjaan, atau hubungan sering menjadi sumber stres berkepanjangan.

4. Pola pikir negatif

Cara seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupannya sangat memengaruhi kondisi mental.

Semua faktor ini dapat memicu stres yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.


Cara Merespons Orang yang Mengalami Gangguan Mental

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika seseorang bercerita tentang masalahnya adalah langsung memberikan nasihat atau solusi.

Padahal, yang sering dibutuhkan adalah didengarkan dengan empati.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Dengarkan tanpa menghakimi

Biarkan mereka bercerita tanpa langsung menyela atau memberikan penilaian.

2. Tunjukkan empati

Cobalah memahami perasaan mereka tanpa meremehkan masalah yang sedang dialami.

3. Hindari membandingkan pengalaman

Kalimat seperti “Masalahku dulu lebih berat” justru bisa membuat seseorang merasa tidak dipahami.

4. Berikan dukungan

Terkadang kehadiran dan perhatian sudah cukup membantu seseorang merasa lebih baik.

5. Sarankan bantuan profesional jika diperlukan

Jika kondisinya semakin berat, dorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor.

Simpati dan Empati: Apa Bedanya?

Dalam membantu orang lain, penting memahami perbedaan antara simpati dan empati.

Simpati berarti merasa kasihan terhadap seseorang.

Sedangkan empati berarti mencoba memahami dan merasakan apa yang orang tersebut alami.

Empati membuat seseorang merasa diterima dan tidak sendirian, sehingga lebih efektif dalam membantu proses pemulihan.

Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengenali emosi dan perasaan sendiri

  • Mengelola stres dengan baik

  • Menjaga pola tidur yang sehat

  • Berbicara dengan orang terpercaya

  • Melakukan aktivitas yang menyenangkan

Kesadaran diri merupakan langkah awal untuk menjaga keseimbangan mental.


Kamis, 05 Maret 2026

Memahami Generasi Z dalam Keluarga

Angelique Handoko, ACC - Tim Parenting Yayasan Busur Emas

Perkembangan zaman membawa perubahan besar dalam cara berpikir dan berperilaku setiap generasi. Salah satu generasi yang saat ini banyak diperbincangkan adalah Generasi Z, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini kini mulai memasuki masa remaja hingga dewasa muda dan berperan aktif di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, memahami karakter dan kebutuhan Generasi Z dalam keluarga menjadi hal yang penting, khususnya bagi para orang tua.

Generasi Z tumbuh di era digital yang penuh dengan informasi. Mereka sangat terbiasa menggunakan teknologi dan memiliki akses luas terhadap berbagai pengetahuan dari internet dan media sosial. Hal ini membuat mereka cenderung lebih kritis, cepat belajar, serta mampu mencari informasi secara mandiri. Namun, di sisi lain, banjir informasi juga dapat membuat mereka mudah membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Akibatnya, sebagian dari mereka menjadi lebih mudah merasa minder, cemas, atau tidak percaya diri.

Dalam kehidupan keluarga, tantangan yang sering muncul adalah masalah komunikasi antara orang tua dan anak Generasi Z. Banyak orang tua merasa kesulitan membangun percakapan yang mendalam karena anak cenderung memberikan jawaban singkat atau tertutup. Kondisi ini sering membuat orang tua merasa tidak didengar, sementara anak merasa tidak dipahami. Padahal, komunikasi yang sehat merupakan kunci penting untuk membangun hubungan yang harmonis dalam keluarga.

Untuk menghadapi hal tersebut, orang tua perlu memahami beberapa kebutuhan utama Generasi Z. Pertama adalah kebutuhan akan apresiasi. Anak-anak generasi ini membutuhkan pengakuan atas usaha dan proses yang mereka lakukan, bukan hanya hasil akhirnya. Ketika orang tua menghargai usaha mereka, anak akan merasa lebih dihargai dan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat.

Kedua adalah kebutuhan akan bimbingan dan kebijaksanaan dari orang tua. Meskipun Generasi Z memiliki banyak informasi dari internet, mereka tetap membutuhkan pengalaman hidup yang dimiliki orang tua. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran berharga dalam menghadapi berbagai keputusan penting dalam hidup, seperti pendidikan, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Namun, cara penyampaian juga penting. Orang tua sebaiknya tidak hanya menasihati, tetapi berbagi pengalaman dengan pendekatan yang lebih terbuka dan dialogis.

Ketiga adalah kebutuhan akan kepercayaan dan kebebasan. Generasi Z cenderung ingin memiliki ruang untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Orang tua perlu memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan, sekaligus memberikan arahan yang bijak. Dengan demikian, anak dapat belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang mereka buat tanpa merasa terlalu dikontrol.

Terakhir, Generasi Z membutuhkan rasa aman secara emosional dalam keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi atau dibandingkan dengan orang lain. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang penuh penerimaan, dukungan, dan kasih sayang agar anak merasa aman untuk berbagi cerita, kegagalan, maupun perasaannya.

Pada akhirnya, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter Generasi Z. Dengan komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, serta kepercayaan yang seimbang, hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi lebih harmonis. Jika keluarga mampu memahami kebutuhan Generasi Z, maka mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Indonesia

Media Sosial vs Rumah Tangga: Antara Privasi dan Pencarian Validasi

 

Lex dePraxis

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Banyak pasangan kini membagikan momen kebersamaan mereka secara terbuka, mulai dari kebahagiaan sederhana hingga konflik yang terjadi di dalam hubungan. Dalam program Sketsa Keluarga Indonesia, topik mengenai “media sosial versus rumah tangga: privasi atau validasi” menjadi perbincangan menarik. Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik semakin kabur seiring berkembangnya teknologi digital.

Sebagian orang memposting pasangan atau kehidupan rumah tangganya sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa bangga terhadap pasangan. Bagi mereka, media sosial adalah sarana untuk merayakan hubungan dan berbagi momen bahagia dengan orang lain. Namun, tidak sedikit juga yang memposting dengan tujuan mencari pengakuan atau validasi dari lingkungan sosial. Dalam praktiknya, cukup sulit membedakan mana yang murni ekspresi kebahagiaan dan mana yang sekadar ingin terlihat ideal di mata publik. Keduanya bisa saja terjadi bersamaan dalam kehidupan digital seseorang.

Di sisi lain, penggunaan media sosial juga kerap memicu konflik dalam hubungan. Banyak pertengkaran pasangan ternyata bukan karena unggahan romantis, tetapi karena aktivitas seperti mengikuti akun lawan jenis, memberikan tanda suka, atau berinteraksi melalui pesan pribadi. Hal-hal kecil ini sering menimbulkan rasa cemburu, terutama jika perhatian tersebut tidak diberikan secara seimbang kepada pasangan sendiri. Pada akhirnya, masalah yang muncul bukan sekadar aktivitas di media sosial, tetapi perasaan kurang diperhatikan dalam hubungan.

Meski demikian, setiap keluarga sebenarnya memiliki batasannya sendiri dalam menggunakan media sosial. Ada pasangan yang nyaman berbagi banyak hal secara terbuka, sementara yang lain lebih memilih menjaga privasi rumah tangga mereka. Tidak ada aturan yang benar-benar mutlak, selama kedua pihak saling memahami dan menyepakati batasan tersebut. Kunci utamanya adalah komunikasi yang sehat serta rasa saling menghormati dalam menjaga privasi dan kepercayaan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Ia bisa menjadi sarana yang mempererat hubungan, tetapi juga dapat menjadi pemicu konflik jika digunakan tanpa kesadaran dan batasan yang jelas. Oleh karena itu, pasangan perlu berdiskusi mengenai bagaimana mereka ingin menggunakan media sosial dalam kehidupan rumah tangga. Dengan saling memahami harapan dan batasan masing-masing, media sosial dapat tetap menjadi ruang berbagi tanpa harus mengorbankan keharmonisan keluarga.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 02 Maret 2026

Waspada Skimming: Kenali Modusnya dan Pahami Hak Perlindungan Hukumnya


Kejahatan siber semakin berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital. Salah satu modus yang marak terjadi adalah skimming, yaitu pencurian data kartu debit atau kredit untuk menguras saldo korban tanpa disadari. Kasus ini kerap muncul dalam pemberitaan dan media sosial, bahkan banyak korban baru menyadari setelah mendapati transaksi mencurigakan di rekening mereka. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga Indonesia untuk memahami bagaimana modus ini bekerja dan bagaimana perlindungan hukum yang tersedia.

Secara sederhana, skimming adalah tindakan mengambil data kartu secara ilegal, biasanya melalui alat yang dipasang di mesin ATM atau melalui rekayasa digital seperti tautan dan aplikasi palsu. Pelaku dapat merekam data kartu dan PIN korban, lalu menggandakan kartu tersebut untuk melakukan transaksi. Ada pula modus online, di mana korban diarahkan mengklik link tertentu yang menyerupai situs resmi bank. Bahkan, pelaku sering mengambil dana dalam jumlah kecil agar tidak langsung terdeteksi, padahal jika dilakukan secara masif, nilainya bisa sangat besar.

Dari sisi hukum, pelaku skimming dapat dijerat dengan sejumlah peraturan perundang-undangan. Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pencurian sekaligus pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ancaman hukumannya mencakup pidana penjara dan denda dalam jumlah besar. Artinya, negara telah menyediakan dasar hukum yang cukup kuat untuk menindak pelaku dan melindungi korban dari penyalahgunaan data pribadi.

Namun demikian, tantangan terbesar bukan hanya pada regulasi, melainkan pada kesadaran masyarakat. Banyak korban enggan melapor karena merasa kerugiannya kecil atau tidak memahami proses hukumnya. Padahal, setiap korban memiliki hak untuk membuat laporan, memperoleh pendampingan hukum, serta dalam kondisi tertentu menuntut ganti rugi. Meningkatkan literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam praktik penipuan yang semakin canggih.

Sebagai langkah pencegahan, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan: selalu tutup keypad saat memasukkan PIN di ATM, rutin mengecek mutasi rekening, jangan sembarangan mengklik tautan, unduh aplikasi hanya dari sumber resmi, dan jangan pernah membagikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas. Perlindungan hukum memang tersedia, tetapi pertahanan pertama tetaplah kewaspadaan diri sendiri. Dengan pengetahuan dan kehati-hatian, kita dapat melindungi diri dan keluarga dari ancaman kejahatan skimming.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Kamis, 26 Februari 2026

Lawan Diskriminasi ODGJ di Dunia Kerja: Memahami, Mendampingi, dan Memberi Kesempatan

 



Program Sketsa Keluarga Indonesia kembali menghadirkan perbincangan penting tentang isu sosial yang kerap luput dari perhatian: melawan diskriminasi terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di dunia kerja. Bersama perwakilan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan dr. Maryatul Choirah, SpKJ yang berpraktik di Rumah Sakit Fatmawati, dibahas secara lugas bagaimana stigma masih menjadi tantangan besar bagi ODGJ untuk memperoleh kesempatan kerja yang setara. Padahal, seperti individu lainnya, mereka memiliki hak, potensi, dan kemampuan untuk produktif.

Secara definisi, ODGJ adalah individu yang mengalami gangguan pada pikiran, perasaan, dan perilaku yang terdiagnosis sesuai pedoman medis. Gangguan ini memiliki spektrum luas, mulai dari gangguan ringan seperti kecemasan dan depresi, hingga gangguan berat seperti skizofrenia. Tidak semua ODGJ menunjukkan gejala yang tampak mencolok. Banyak di antaranya mampu berfungsi secara normal, terutama jika mendapatkan penanganan yang tepat, baik melalui pengobatan (psikofarmaka) maupun terapi psikologis. Karena itu, anggapan bahwa ODGJ selalu identik dengan “orang terlantar” atau tidak mampu bekerja adalah kekeliruan yang perlu diluruskan.



Stigma di lingkungan kerja biasanya muncul karena kurangnya pemahaman. Label negatif, anggapan tidak kompeten, hingga pengucilan sosial sering kali terjadi bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena prasangka. Padahal, secara hukum, negara menjamin hak ODGJ untuk bekerja dan memperoleh perlakuan yang adil. Tantangannya terletak pada komunikasi dan penyesuaian peran. Perusahaan tentu memiliki standar dan kebutuhan tertentu, namun dengan pendekatan yang tepat, banyak ODGJ yang dapat ditempatkan sesuai kompetensinya dan bekerja secara optimal.

Kunci agar ODGJ dapat produktif adalah stabilitas kondisi mental, dukungan keluarga, serta lingkungan kerja yang suportif. Stabil bukan berarti tanpa pengobatan, melainkan kondisi yang terkontrol sehingga individu mampu mengelola stres dan tanggung jawab pekerjaan. Keterbukaan, bila memungkinkan, juga dapat membantu atasan memahami kebutuhan khusus yang mungkin diperlukan. Dukungan ini penting karena gangguan kejiwaan, seperti penyakit fisik lainnya, dapat kambuh jika tidak ditangani secara komprehensif—baik dari sisi biologis, psikologis, maupun sosial.

Pada akhirnya, melawan diskriminasi terhadap ODGJ di dunia kerja bukan hanya soal memberi kesempatan, tetapi juga soal membangun kesadaran bersama. ODGJ bukanlah label yang menghapus kemampuan seseorang. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka dapat pulih, stabil, dan berprestasi. Seperti semangat Sketsa Keluarga Indonesia, memperkuat keluarga dan lingkungan kerja yang inklusif berarti turut memperkokoh Indonesia melalui empati, pemahaman, dan kolaborasi.

Ini Rahasia Agar Orang Mau Mendengarkan, Ala Choki Pardede

Semua orang bisa berbicara. Namun, tidak semua orang mampu membuat orang lain benar-benar mendengarkan. Kemampuan berbicara di depan umum at...