Rabu, 25 Februari 2026

Child Grooming Mengintai: Sudahkah Hukum dan Keluarga Siap Melindungi Anak?

 


Kasus child grooming semakin marak dan kerap terjadi tanpa disadari, baik melalui interaksi langsung maupun lewat media sosial. Modusnya tidak selalu disertai kekerasan fisik, melainkan dimulai dari pendekatan emosional, bujuk rayu, hingga manipulasi psikologis yang membuat anak merasa aman dan percaya pada pelaku. Karena anak belum memiliki kematangan dalam mengambil keputusan, terutama terkait relasi seksual, praktik ini tetap tergolong tindak pidana meskipun tampak seperti “suka sama suka”.

Di Indonesia, perlindungan terhadap anak sebenarnya telah diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Perbuatan membujuk, menipu, atau memanipulasi anak untuk tujuan seksual dapat dijerat pidana berat, bahkan tanpa harus ada unsur kekerasan fisik. Selain hukuman penjara, pelaku juga dapat dikenai restitusi untuk membantu pemulihan korban, meski dalam praktiknya pembuktian—terutama di ranah digital—sering menjadi tantangan tersendiri.

Dampak child grooming tidak hanya terjadi sesaat, tetapi bisa membekas dalam jangka panjang. Korban dapat mengalami trauma psikologis, gangguan emosional, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun relasi di masa depan. Karena itu, penegakan hukum saja tidak cukup; pemulihan psikologis dan dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam memastikan anak benar-benar pulih dan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya dengan sehat.

Pada akhirnya, perlindungan terbaik tetap dimulai dari keluarga. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan edukasi seks sesuai usia, serta mendampingi aktivitas digital anak. Hukum memang menjadi payung perlindungan, tetapi benteng pertama yang menjaga anak dari bahaya grooming adalah rumah yang aman, hangat, dan penuh kepercayaan.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Polyworking: Tren Cerdas atau Sekadar Ikut Arus?





Belakangan ini, istilah polyworking semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan pekerja urban. Di tengah naiknya kebutuhan hidup, tekanan ekonomi, dan gaya hidup yang terus berkembang, banyak orang mulai mengambil lebih dari satu pekerjaan—bahkan dalam waktu yang bersamaan.

Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan: polyworking itu langkah cerdas atau sekadar ikut-ikutan agar terlihat produktif dan ambisius?

Dalam sebuah diskusi bersama praktisi Human Resource Development, Anung Prakoso, dibahas secara mendalam tentang tren ini dari berbagai sudut pandang—karyawan, perusahaan, hingga keluarga. 

Apa Itu Polyworking?

Polyworking adalah praktik bekerja di dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang sama. Ini berbeda dengan side hustle atau kerja sampingan yang dilakukan di luar jam kerja utama.

Jika seseorang bekerja di perusahaan A pukul 09.00–17.00 WIB, lalu di waktu yang sama mengerjakan proyek untuk perusahaan B, maka itulah yang disebut polyworking.

Perkembangan teknologi menjadi pendorong utama. Sistem kerja remote, fleksibilitas waktu, hingga akses proyek global membuat seseorang bisa:

  • Bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa harus hadir fisik

  • Mengambil proyek freelance bersamaan dengan pekerjaan utama

  • Mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber sekaligus

Mengapa Polyworking Semakin Populer?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:

1. Tekanan Ekonomi

Inflasi, kenaikan kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya pendidikan, dan gaya hidup membuat banyak orang merasa satu sumber penghasilan saja tidak cukup.

2. Perubahan Pola Pikir Generasi

Jika dulu loyalitas pada satu perusahaan dianggap ideal, kini generasi milenial dan Gen Z lebih terbuka pada diversifikasi pendapatan. Bagi mereka, satu pekerjaan terasa “kurang ambisius”.

3. Fleksibilitas Dunia Kerja

Banyak perusahaan kini tidak lagi menuntut kehadiran fisik. Yang penting target tercapai. Ini membuka ruang untuk mengerjakan pekerjaan lain secara paralel.

Dari Sisi Perusahaan: Sah atau Tidak?

Menurut perspektif HR, polyworking bisa menjadi persoalan etika jika:

  • Dilakukan tanpa izin perusahaan

  • Menggunakan jam kerja untuk pekerjaan lain

  • Berpotensi menimbulkan konflik kepentingan

  • Ada risiko kebocoran informasi

Perusahaan membayar gaji, benefit, dan fasilitas berdasarkan kesepakatan jam kerja. Jika jam tersebut digunakan untuk kepentingan lain tanpa transparansi, ini bisa dianggap pelanggaran.

Karena itu, penting untuk:

✔️ Memastikan ada izin atau aturan yang jelas
✔️ Tidak melanggar kontrak kerja
✔️ Tidak merugikan perusahaan utama

Jika ingin lebih fleksibel, opsi seperti freelance atau part-time sering kali lebih aman dibanding menjadi karyawan tetap yang terikat kontrak penuh.

Apakah Polyworking Bisa Maksimal?

Secara teori, mungkin.
Secara praktik, sangat menantang.

Mengelola dua hingga tiga pekerjaan dalam waktu bersamaan membutuhkan:

  • Time management yang sangat baik

  • Skala prioritas yang jelas

  • Fokus tinggi

  • Disiplin ekstrem

Masalahnya, manusia punya keterbatasan: waktu, energi, dan kesehatan.

Sering kali yang terlihat di media sosial hanyalah kesibukan dan pencapaian. Namun di balik itu, bisa saja ada kelelahan, stres, bahkan relasi keluarga yang terganggu.

Dampak terhadap Kesehatan dan Keluarga

Ini bagian yang sering diabaikan.

Jika mulai muncul tanda-tanda seperti:

  • Mudah stres

  • Kurang tidur

  • Hubungan keluarga renggang

  • Tidak punya waktu untuk diri sendiri

  • Ibadah atau hobi terbengkalai

Itu bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi ulang.

Hidup bukan hanya tentang uang. Tidak ada “spare part” untuk kesehatan fisik maupun mental. Uang bisa dicari kembali, tetapi waktu dan kesehatan tidak bisa diganti.

Tren Cerdas atau Sekadar Gaya?

Jawabannya: tergantung.

✔️ Bisa jadi tren cerdas jika:

  • Dilakukan dengan izin dan etika yang benar

  • Tidak mengorbankan kualitas kerja

  • Tidak merusak kesehatan

  • Masih ada keseimbangan hidup

❌ Bisa jadi sekadar ikut arus jika:

  • Hanya untuk validasi sosial

  • Demi terlihat sibuk dan ambisius

  • Mengabaikan keluarga dan kesehatan

  • Tidak punya manajemen waktu yang baik

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 23 Februari 2026

Belajar Psikologi untuk Apa? Ini Jawaban yang Perlu Kamu Tahu

 



Minat terhadap jurusan psikologi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang tertarik mempelajari psikologi karena ingin memahami diri sendiri, membantu orang lain, atau tertarik dengan isu kesehatan mental yang semakin sering dibahas. Namun, sebenarnya belajar psikologi itu untuk apa?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Di dalamnya, mahasiswa tidak hanya belajar tentang emosi dan kepribadian, tetapi juga tentang perkembangan manusia, relasi sosial, dinamika keluarga, hingga aspek biologis yang memengaruhi perilaku. Psikologi membantu kita memahami mengapa seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara tertentu. Ilmu ini tidak sekadar tentang “membaca pikiran”, melainkan tentang memahami pola dan proses di balik perilaku manusia secara ilmiah.

Perlu dipahami juga bahwa lulusan S1 Psikologi belum otomatis menjadi psikolog. Untuk bisa praktik dan memberikan layanan konseling atau terapi, seseorang harus melanjutkan ke pendidikan profesi serta memiliki sertifikasi sesuai aturan yang berlaku. Ini penting agar layanan yang diberikan tetap etis, aman, dan profesional. Artinya, belajar psikologi adalah proses panjang yang menuntut tanggung jawab besar.

Menariknya, belajar psikologi tidak otomatis membuat seseorang langsung sehat mental. Pengetahuan memang meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), tetapi kesehatan mental tetap membutuhkan proses pengolahan emosi, refleksi, dan terkadang bantuan profesional. Banyak orang yang belajar psikologi justru semakin menyadari luka atau pola tidak sehat dalam dirinya. Namun kesadaran itulah langkah awal menuju pertumbuhan dan pemulihan.

Di era digital saat ini, banyak orang mencari jawaban tentang kesehatan mental melalui internet atau bahkan AI. Teknologi memang bisa menjadi alat bantu untuk mendapatkan informasi awal, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan antarmanusia. Proses konseling dan terapi tetap membutuhkan empati, koneksi, dan kehadiran yang autentik—sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh manusia.

Pada akhirnya, belajar psikologi bukan hanya soal karier. Psikologi membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam, membangun relasi yang lebih sehat, serta memahami orang lain dengan empati. Ilmu ini relevan bukan hanya bagi calon psikolog, tetapi bagi siapa pun yang ingin hidup lebih sadar, dewasa secara emosional, dan mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Perselingkuhan dan Versi Diri yang Hilang: Memahami Akar Masalah dalam Pernikahan




Perselingkuhan bukan sekadar hadirnya orang ketiga dalam sebuah pernikahan, melainkan pelanggaran terhadap komitmen yang telah disepakati bersama. Ketika dua orang menikah, mereka membangun janji tentang kesetiaan, keterbukaan, dan kebersamaan. Namun dalam kenyataannya, sebagian pasangan terjebak dalam hubungan rahasia yang diawali dari kedekatan emosional, komunikasi yang intens, dan hal-hal yang disembunyikan. Kerahasiaan inilah yang perlahan merusak fondasi utama pernikahan: kepercayaan.

Di balik banyak kasus perselingkuhan, terdapat apa yang disebut sebagai “versi diri yang hilang”. Seseorang mungkin merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam pernikahan. Ia merindukan perhatian, penghargaan, dukungan, atau keintiman yang tidak ia rasakan. Tidak jarang, hal ini berakar dari luka masa kecil atau trauma yang belum terselesaikan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak dipahami atau tidak terkomunikasikan dengan baik, sebagian orang mencari pemenuhan di luar hubungan resminya.

Kurangnya komunikasi yang sehat menjadi salah satu pemicu utama. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan—seolah-olah pasangan harus menjadi penyembuh semua luka batin—juga memperberat keadaan. Padahal, pasangan bukanlah terapis pribadi. Pernikahan yang sehat menuntut dua individu yang sama-sama mau bertumbuh, bukan saling menuntut tanpa refleksi diri. Tanpa kesadaran dan kemauan untuk memproses masalah, jarak emosional bisa semakin melebar dan membuka celah bagi perselingkuhan.

Meski demikian, pernikahan yang terluka masih memiliki peluang untuk dipulihkan. Dengan kejujuran, tanggung jawab, serta kesediaan mencari bantuan profesional, banyak pasangan mampu membangun kembali hubungan yang lebih kuat. Bagi pihak yang terluka, proses pengampunan sering menjadi bagian penting dalam pemulihan, meski tidak mudah dan membutuhkan waktu. Pada akhirnya, menjaga pernikahan berarti terus merawat komunikasi, saling menghargai, dan berkomitmen untuk bertumbuh bersama demi menjaga kepercayaan yang telah dibangun. 

sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Sabtu, 21 Februari 2026

Ramah Tapi Berbahaya: Mengenal Child Grooming yang Mengintai Anak Kita

 




Banyak orang tua membayangkan ancaman terhadap anak datang dari sosok asing yang mencurigakan. Padahal, child grooming sering hadir dengan wajah yang justru terlihat baik, perhatian, dan penuh empati. Pelaku membangun kedekatan secara perlahan, membuat anak merasa dimengerti, dihargai, bahkan dianggap “spesial”. Dari situlah proses manipulasi dimulai—tanpa bentakan, tanpa paksaan, tanpa disadari. Inilah yang membuat child grooming begitu berbahaya: ia bekerja diam-diam, menyusup melalui rasa percaya.

Child grooming bukan peristiwa instan, melainkan proses bertahap. Pelaku biasanya memberi perhatian berlebihan, sering menghubungi, memberi hadiah, atau menjadi tempat curhat yang tampak paling memahami. Setelah kedekatan terbangun, batasan mulai digeser sedikit demi sedikit. Anak bisa diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari orang tua, atau dibuat merasa bersalah jika tidak menuruti permintaan. Karena secara emosional anak—terutama usia remaja awal—belum sepenuhnya matang, mereka lebih mudah terjebak dalam relasi yang terasa nyaman tetapi sebenarnya manipulatif.

Di era digital, ruang grooming semakin luas. Media sosial, gim online, hingga aplikasi percakapan menjadi pintu masuk yang sulit diawasi sepenuhnya. Pelaku bisa berpura-pura seusia, menggunakan identitas palsu, atau tampil sebagai mentor yang suportif. Tanda-tandanya sering kali samar: anak menjadi lebih tertutup, defensif saat ditanya tentang teman online-nya, atau menunjukkan perubahan emosi yang drastis. Tanpa komunikasi yang hangat di rumah, sinyal-sinyal ini mudah terlewat.

Karena itu, perlindungan terbaik bukan sekadar pembatasan gawai, melainkan kedekatan emosional. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi. Ajarkan mereka mengenali rasa tidak nyaman, berani berkata “tidak”, dan memahami bahwa rahasia yang membuat gelisah bukanlah rahasia yang harus disimpan. Saat rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang dan berbagi, peluang bagi pelaku grooming untuk menyusup akan semakin kecil.


Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Satu Atap, Dua Dunia: Saat Keluarga Terlihat Utuh tapi Hati Berjarak



Di luar tampak baik-baik saja. Ayah bekerja, ibu mengurus rumah atau kariernya, anak-anak sekolah dan tumbuh seperti biasa. Tidak ada perceraian, tidak ada konflik besar yang terdengar ke tetangga. Namun diam-diam, ada jarak yang tak kasat mata. Makan bersama tanpa percakapan berarti, duduk satu ruangan tapi sibuk dengan gawai masing-masing, atau berbicara hanya seperlunya. Inilah potret keluarga yang terlihat utuh, tetapi hatinya berjalan sendiri-sendiri.

Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Teknologi yang seharusnya mendekatkan justru sering menciptakan ruang privat berlebihan di dalam rumah. Suami dan istri tenggelam dalam pekerjaan dan media sosial, anak-anak larut dalam dunia pertemanan dan game. Tanpa disadari, momen kecil seperti bercanda di meja makan atau berbagi cerita sebelum tidur perlahan menghilang. Ketika komunikasi hanya sebatas informasi, bukan lagi koneksi, hubungan emosional pun mulai menipis.

Yang membuat situasi ini berbahaya adalah karena ia terasa “normal”. Banyak pasangan menganggap wajar jika pernikahan tak lagi sehangat dulu. Banyak orang tua memaklumi jika anak lebih nyaman bercerita pada teman dibanding keluarga. Padahal, hubungan yang dibiarkan dingin tanpa usaha memperbaiki bisa berubah menjadi kebiasaan yang sulit dipulihkan. Keluarga bukan hanya soal tinggal bersama, melainkan tentang merasa didengar, dihargai, dan dipahami.

Membangun kembali kehangatan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kadang cukup dengan bertanya, “Apa yang membuatmu nyaman di rumah ini?” atau menyediakan waktu khusus tanpa gangguan gawai. Mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa menggurui, dan memberi ruang tanpa kehilangan kedekatan adalah kunci agar rumah tetap menjadi tempat pulang yang dirindukan. Karena pada akhirnya, keluarga yang benar-benar utuh adalah keluarga yang hatinya saling terhubung.


sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 26 April 2021

Menghindar Keramain Kota,Dusun Bambu Bandung Aja

Bandung memang terkenal sebagai tujuan wisata yang menjadi pilihan pelancong di akhir pekan. Kita bisa wisata kuliner, wisata agro, wisata petualang, sampai wisata alam dapat kita lakukan di Bandung. Selain sebagai tujuan wisata Bandung juga dipilih sebagai kota tujuan bagi para pelancong untuk berbelanja. Berbagai macam factory outlet yang ada di Bandung menjual barang-barang branded sampai produk lokal UKM yang tidak kalah saing. 

Ngomongin Bandung kayanya juga ga ada habisnya ya, dari Gubernurnya yang berkharisma sampai udara sejuk yang dimiliki. Berbagai macam tempat wisata tentu menarik untuk dikunjungi di kota kembang ini. Kalau kalian ingin stress release  di akhir pekan, Dusun Bambu bisa menjadi destinasi untuk kalian.

Lokasi dari dusun bambu ini berada di Jl. Kolonel Masturi KM. 11 Kartawangi, Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk perjalanan dari Jakarta kalian bisa keluar dari Tol Pasteur kemudian langsung menuju ke Lembang, lanjut lagi ke arah parongpong dan kalian akan tiba disana. Nah, harap hati-hati juga ya karena didekat lokasi wisata ini ada area yang rawan longsor. Jadi, kita harus hati-hati juga nih pada saat berkendara. 

Untuk waktu tempuhnya sendiri dari Jakarta sampai ke Lokasi membutuhkan waktu sekitar 4 jam, karena akhir pekan pasti macet. Eit jangan khawatir juga, kalau ingin puas menikmati wahana yang ada di dusun bambu ini, kalian bisa menginap di vila atau pun tempat berkemah yang ada disana. Untuk harganya kalian bisa check aja langsung ke websitenya Dusun Bambu Lembang ini ya.

Dokumentasi Pribadi

Daya tarik lainnya yang ada di Dusun Bambu Lembang ini kita dapat mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan sunda. Pengunjung dapat membuat kerajinan sendiri yang pastinya dilakukan secara tradisional. Wahana Lembur Urang ini menjadi favorit, karena setelah berlelah dengan anyaman ataupun mengenal kebudayaan Sunda kita bisa beristirahat di restoran yang ada di Lembur Urang ini. Untuk menu makanan yang disediakan juga menu makanan dari Indonesia. Kita pun bisa memilih paket untuk pesanan hingga 6 orang. Menu bebeknya bisa menjadi pilihan buat kalian yang sudah lelah menjelajah Dusun Bambu ini. 

Wahana lain yang ada di Dusun Bambu ini adalah Danau yang ada disana. Kita bisa menggunakan perahu untuk sekedar menikmati pemandangan atau berfoto. Sebagai informasi tambahan, Dusun bambu Lembang ini juga dekat dengan air terjun Cimahi. Jadi, jangan menghabiskan tenaga jika ingin mampir ke air terjun Cimahi. Gimana udah punya siap belum untuk merencanakan liburan kalian ke Dusun Bambu Lembang?






Child Grooming Mengintai: Sudahkah Hukum dan Keluarga Siap Melindungi Anak?

  Kasus child grooming semakin marak dan kerap terjadi tanpa disadari, baik melalui interaksi langsung maupun lewat media sosial. Modusnya ...