Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang kerap merasa sudah memahami apa yang akan disampaikan lawan bicara sebelum orang tersebut selesai berbicara. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru.
“Manusia diciptakan Allah hanya memiliki satu mulut tapi dua telinga,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi tersebut. Maknanya, manusia diajak untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Kemampuan mendengar juga menjadi penting dalam membangun dialog yang sehat. Dalam berbagai perdebatan yang ditampilkan di televisi, misalnya, sering kali orang justru sibuk mempertahankan pendapatnya dan saling memotong pembicaraan.
Akibatnya, yang terjadi bukan dialog untuk memahami satu sama lain, melainkan adu argumentasi tanpa ada pihak yang benar-benar mendengarkan.
Miskomunikasi dan konflik dapat terjadi ketika salah satu pihak dalam komunikasi tidak memberikan kesempatan kepada pihak lainnya untuk menyampaikan gagasan dan argumentasinya secara utuh.
Untuk itu, seseorang perlu memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyelesaikan pembicaraannya sebelum memberikan respons. Jangan terburu-buru menyimpulkan maksud seseorang hanya berdasarkan beberapa kata pertama yang didengar.
Konsep tersebut juga dikaitkan dengan kemampuan dalam bernegosiasi. Dalam sebuah negosiasi, orang yang terlalu banyak berbicara belum tentu menjadi pihak yang paling diuntungkan. Sebaliknya, kemampuan untuk diam dan mendengarkan dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memperoleh lebih banyak informasi.
Mendengarkan juga bukan berarti seseorang kalah atau kurang pintar. Justru dengan mendengarkan, seseorang berkesempatan mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan perspektif baru dari orang lain.
“Kalau kita ngomong orang yang menyerap ilmu kita. Tetapi kalau kita mendengar kita menyerap ilmu orang”.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia komunikasi dan media yang berlangsung cepat. Seseorang dituntut untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan, termasuk dengan mendengarkan orang-orang dari generasi yang lebih muda.
Pengalaman di dunia televisi maupun dunia digital juga menunjukkan bahwa perubahan berlangsung dinamis. Apa yang menjadi tren hari ini belum tentu menjadi tren pada pekan berikutnya. Karena itu, keterbukaan untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan beradaptasi.
Pada akhirnya, kemampuan komunikasi yang baik seharusnya tidak hanya menghasilkan seorang public speaker yang mampu berbicara di depan banyak orang, tetapi juga seorang pendengar yang baik.
Sebab, jika berbicara membuat orang lain mendapatkan ilmu dari kita, maka mendengarkan memberikan kesempatan bagi kita untuk mendapatkan ilmu dari orang lain.
Dengan demikian, komunikasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara atau siapa yang memenangkan perdebatan. Komunikasi adalah tentang bagaimana setiap pihak saling memberikan ruang untuk berbicara, mendengar, memahami, dan belajar satu sama lain.








