Tampilkan postingan dengan label Sketsa Keluarga Indonesia Heartline Tangerang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Keluarga Indonesia Heartline Tangerang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

Polyworking: Tren Cerdas atau Sekadar Ikut Arus?





Belakangan ini, istilah polyworking semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan pekerja urban. Di tengah naiknya kebutuhan hidup, tekanan ekonomi, dan gaya hidup yang terus berkembang, banyak orang mulai mengambil lebih dari satu pekerjaan—bahkan dalam waktu yang bersamaan.

Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan: polyworking itu langkah cerdas atau sekadar ikut-ikutan agar terlihat produktif dan ambisius?

Dalam sebuah diskusi bersama praktisi Human Resource Development, Anung Prakoso, dibahas secara mendalam tentang tren ini dari berbagai sudut pandang—karyawan, perusahaan, hingga keluarga. 

Apa Itu Polyworking?

Polyworking adalah praktik bekerja di dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang sama. Ini berbeda dengan side hustle atau kerja sampingan yang dilakukan di luar jam kerja utama.

Jika seseorang bekerja di perusahaan A pukul 09.00–17.00 WIB, lalu di waktu yang sama mengerjakan proyek untuk perusahaan B, maka itulah yang disebut polyworking.

Perkembangan teknologi menjadi pendorong utama. Sistem kerja remote, fleksibilitas waktu, hingga akses proyek global membuat seseorang bisa:

  • Bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa harus hadir fisik

  • Mengambil proyek freelance bersamaan dengan pekerjaan utama

  • Mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber sekaligus

Mengapa Polyworking Semakin Populer?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:

1. Tekanan Ekonomi

Inflasi, kenaikan kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya pendidikan, dan gaya hidup membuat banyak orang merasa satu sumber penghasilan saja tidak cukup.

2. Perubahan Pola Pikir Generasi

Jika dulu loyalitas pada satu perusahaan dianggap ideal, kini generasi milenial dan Gen Z lebih terbuka pada diversifikasi pendapatan. Bagi mereka, satu pekerjaan terasa “kurang ambisius”.

3. Fleksibilitas Dunia Kerja

Banyak perusahaan kini tidak lagi menuntut kehadiran fisik. Yang penting target tercapai. Ini membuka ruang untuk mengerjakan pekerjaan lain secara paralel.

Dari Sisi Perusahaan: Sah atau Tidak?

Menurut perspektif HR, polyworking bisa menjadi persoalan etika jika:

  • Dilakukan tanpa izin perusahaan

  • Menggunakan jam kerja untuk pekerjaan lain

  • Berpotensi menimbulkan konflik kepentingan

  • Ada risiko kebocoran informasi

Perusahaan membayar gaji, benefit, dan fasilitas berdasarkan kesepakatan jam kerja. Jika jam tersebut digunakan untuk kepentingan lain tanpa transparansi, ini bisa dianggap pelanggaran.

Karena itu, penting untuk:

✔️ Memastikan ada izin atau aturan yang jelas
✔️ Tidak melanggar kontrak kerja
✔️ Tidak merugikan perusahaan utama

Jika ingin lebih fleksibel, opsi seperti freelance atau part-time sering kali lebih aman dibanding menjadi karyawan tetap yang terikat kontrak penuh.

Apakah Polyworking Bisa Maksimal?

Secara teori, mungkin.
Secara praktik, sangat menantang.

Mengelola dua hingga tiga pekerjaan dalam waktu bersamaan membutuhkan:

  • Time management yang sangat baik

  • Skala prioritas yang jelas

  • Fokus tinggi

  • Disiplin ekstrem

Masalahnya, manusia punya keterbatasan: waktu, energi, dan kesehatan.

Sering kali yang terlihat di media sosial hanyalah kesibukan dan pencapaian. Namun di balik itu, bisa saja ada kelelahan, stres, bahkan relasi keluarga yang terganggu.

Dampak terhadap Kesehatan dan Keluarga

Ini bagian yang sering diabaikan.

Jika mulai muncul tanda-tanda seperti:

  • Mudah stres

  • Kurang tidur

  • Hubungan keluarga renggang

  • Tidak punya waktu untuk diri sendiri

  • Ibadah atau hobi terbengkalai

Itu bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi ulang.

Hidup bukan hanya tentang uang. Tidak ada “spare part” untuk kesehatan fisik maupun mental. Uang bisa dicari kembali, tetapi waktu dan kesehatan tidak bisa diganti.

Tren Cerdas atau Sekadar Gaya?

Jawabannya: tergantung.

✔️ Bisa jadi tren cerdas jika:

  • Dilakukan dengan izin dan etika yang benar

  • Tidak mengorbankan kualitas kerja

  • Tidak merusak kesehatan

  • Masih ada keseimbangan hidup

❌ Bisa jadi sekadar ikut arus jika:

  • Hanya untuk validasi sosial

  • Demi terlihat sibuk dan ambisius

  • Mengabaikan keluarga dan kesehatan

  • Tidak punya manajemen waktu yang baik

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Child Grooming Mengintai: Sudahkah Hukum dan Keluarga Siap Melindungi Anak?

  Kasus child grooming semakin marak dan kerap terjadi tanpa disadari, baik melalui interaksi langsung maupun lewat media sosial. Modusnya ...