Perselingkuhan bukan sekadar hadirnya orang ketiga dalam sebuah pernikahan, melainkan pelanggaran terhadap komitmen yang telah disepakati bersama. Ketika dua orang menikah, mereka membangun janji tentang kesetiaan, keterbukaan, dan kebersamaan. Namun dalam kenyataannya, sebagian pasangan terjebak dalam hubungan rahasia yang diawali dari kedekatan emosional, komunikasi yang intens, dan hal-hal yang disembunyikan. Kerahasiaan inilah yang perlahan merusak fondasi utama pernikahan: kepercayaan.
Di balik banyak kasus perselingkuhan, terdapat apa yang disebut sebagai “versi diri yang hilang”. Seseorang mungkin merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam pernikahan. Ia merindukan perhatian, penghargaan, dukungan, atau keintiman yang tidak ia rasakan. Tidak jarang, hal ini berakar dari luka masa kecil atau trauma yang belum terselesaikan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak dipahami atau tidak terkomunikasikan dengan baik, sebagian orang mencari pemenuhan di luar hubungan resminya.
Kurangnya komunikasi yang sehat menjadi salah satu pemicu utama. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan—seolah-olah pasangan harus menjadi penyembuh semua luka batin—juga memperberat keadaan. Padahal, pasangan bukanlah terapis pribadi. Pernikahan yang sehat menuntut dua individu yang sama-sama mau bertumbuh, bukan saling menuntut tanpa refleksi diri. Tanpa kesadaran dan kemauan untuk memproses masalah, jarak emosional bisa semakin melebar dan membuka celah bagi perselingkuhan.
Meski demikian, pernikahan yang terluka masih memiliki peluang untuk dipulihkan. Dengan kejujuran, tanggung jawab, serta kesediaan mencari bantuan profesional, banyak pasangan mampu membangun kembali hubungan yang lebih kuat. Bagi pihak yang terluka, proses pengampunan sering menjadi bagian penting dalam pemulihan, meski tidak mudah dan membutuhkan waktu. Pada akhirnya, menjaga pernikahan berarti terus merawat komunikasi, saling menghargai, dan berkomitmen untuk bertumbuh bersama demi menjaga kepercayaan yang telah dibangun.
sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar