Rabu, 11 Maret 2026

Pentingnya Kesadaran tentang Kesehatan Mental

 


Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting dalam kehidupan modern. Tekanan pekerjaan, masalah sosial, hingga pengaruh media sosial membuat banyak orang mengalami stres bahkan gangguan mental.

Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami tanda-tanda gangguan mental dan bagaimana cara meresponsnya dengan benar. Ketika melihat seseorang mengalami perubahan emosi atau perilaku, reaksi yang muncul sering kali adalah panik.

Padahal, yang dibutuhkan sebenarnya adalah kepekaan dan pemahaman, bukan kepanikan.

Dengan memiliki pengetahuan tentang kesehatan mental, kita bisa membantu diri sendiri maupun orang lain menghadapi kondisi tersebut dengan lebih baik.

Perbedaan Stres Biasa dan Gangguan Mental

Tidak semua stres berarti gangguan mental. Stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan hidup.

Namun, stres dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak dikelola dengan baik.

Stres Biasa

Beberapa ciri stres yang masih tergolong normal antara lain:

  • Muncul karena tekanan pekerjaan atau masalah tertentu

  • Bersifat sementara

  • Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan

Biasanya stres akan berkurang setelah masalah yang dihadapi mulai terselesaikan.

Gangguan Mental

Sementara itu, gangguan mental memiliki karakteristik yang berbeda:

  • Emosi negatif berlangsung lama

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari

  • Membuat seseorang kehilangan motivasi atau energi

Para ahli sering menggunakan indikator dua minggu sebagai batas awal. Jika perasaan sedih, cemas, atau perubahan perilaku berlangsung lebih dari dua minggu, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Tanda-Tanda Awal Gangguan Mental yang Perlu Diketahui

Mengenali ciri gangguan mental sejak dini sangat penting agar seseorang bisa mendapatkan bantuan lebih cepat.

Berikut beberapa tanda yang sering muncul:

1. Perubahan emosi yang drastis

Seseorang bisa tiba-tiba menjadi sangat sedih, mudah marah, atau emosinya tidak stabil.

2. Kehilangan minat pada aktivitas

Hal-hal yang dulu disukai terasa tidak lagi menarik.

3. Perubahan pola tidur

Tidur terlalu lama atau justru mengalami insomnia bisa menjadi tanda tekanan psikologis.

4. Menarik diri dari lingkungan sosial

Orang yang mengalami masalah mental sering menghindari interaksi sosial.

5. Perubahan perilaku sehari-hari

Rutinitas yang biasanya dilakukan menjadi terabaikan.

Jika gejala tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya segera mencari bantuan atau dukungan.

Mengapa Masalah Kesehatan Mental Semakin Meningkat?

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah orang yang mengalami masalah kesehatan mental terus meningkat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

1. Tekanan sosial

Pergaulan dan tuntutan lingkungan dapat memicu stres.

2. Social comparison

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial, dapat menurunkan rasa percaya diri.

3. Tekanan hidup

Masalah finansial, pekerjaan, atau hubungan sering menjadi sumber stres berkepanjangan.

4. Pola pikir negatif

Cara seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupannya sangat memengaruhi kondisi mental.

Semua faktor ini dapat memicu stres yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.


Cara Merespons Orang yang Mengalami Gangguan Mental

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika seseorang bercerita tentang masalahnya adalah langsung memberikan nasihat atau solusi.

Padahal, yang sering dibutuhkan adalah didengarkan dengan empati.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Dengarkan tanpa menghakimi

Biarkan mereka bercerita tanpa langsung menyela atau memberikan penilaian.

2. Tunjukkan empati

Cobalah memahami perasaan mereka tanpa meremehkan masalah yang sedang dialami.

3. Hindari membandingkan pengalaman

Kalimat seperti “Masalahku dulu lebih berat” justru bisa membuat seseorang merasa tidak dipahami.

4. Berikan dukungan

Terkadang kehadiran dan perhatian sudah cukup membantu seseorang merasa lebih baik.

5. Sarankan bantuan profesional jika diperlukan

Jika kondisinya semakin berat, dorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor.

Simpati dan Empati: Apa Bedanya?

Dalam membantu orang lain, penting memahami perbedaan antara simpati dan empati.

Simpati berarti merasa kasihan terhadap seseorang.

Sedangkan empati berarti mencoba memahami dan merasakan apa yang orang tersebut alami.

Empati membuat seseorang merasa diterima dan tidak sendirian, sehingga lebih efektif dalam membantu proses pemulihan.

Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mental

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengenali emosi dan perasaan sendiri

  • Mengelola stres dengan baik

  • Menjaga pola tidur yang sehat

  • Berbicara dengan orang terpercaya

  • Melakukan aktivitas yang menyenangkan

Kesadaran diri merupakan langkah awal untuk menjaga keseimbangan mental.


Kamis, 05 Maret 2026

Memahami Generasi Z dalam Keluarga

Angelique Handoko, ACC - Tim Parenting Yayasan Busur Emas

Perkembangan zaman membawa perubahan besar dalam cara berpikir dan berperilaku setiap generasi. Salah satu generasi yang saat ini banyak diperbincangkan adalah Generasi Z, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini kini mulai memasuki masa remaja hingga dewasa muda dan berperan aktif di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, memahami karakter dan kebutuhan Generasi Z dalam keluarga menjadi hal yang penting, khususnya bagi para orang tua.

Generasi Z tumbuh di era digital yang penuh dengan informasi. Mereka sangat terbiasa menggunakan teknologi dan memiliki akses luas terhadap berbagai pengetahuan dari internet dan media sosial. Hal ini membuat mereka cenderung lebih kritis, cepat belajar, serta mampu mencari informasi secara mandiri. Namun, di sisi lain, banjir informasi juga dapat membuat mereka mudah membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Akibatnya, sebagian dari mereka menjadi lebih mudah merasa minder, cemas, atau tidak percaya diri.

Dalam kehidupan keluarga, tantangan yang sering muncul adalah masalah komunikasi antara orang tua dan anak Generasi Z. Banyak orang tua merasa kesulitan membangun percakapan yang mendalam karena anak cenderung memberikan jawaban singkat atau tertutup. Kondisi ini sering membuat orang tua merasa tidak didengar, sementara anak merasa tidak dipahami. Padahal, komunikasi yang sehat merupakan kunci penting untuk membangun hubungan yang harmonis dalam keluarga.

Untuk menghadapi hal tersebut, orang tua perlu memahami beberapa kebutuhan utama Generasi Z. Pertama adalah kebutuhan akan apresiasi. Anak-anak generasi ini membutuhkan pengakuan atas usaha dan proses yang mereka lakukan, bukan hanya hasil akhirnya. Ketika orang tua menghargai usaha mereka, anak akan merasa lebih dihargai dan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat.

Kedua adalah kebutuhan akan bimbingan dan kebijaksanaan dari orang tua. Meskipun Generasi Z memiliki banyak informasi dari internet, mereka tetap membutuhkan pengalaman hidup yang dimiliki orang tua. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran berharga dalam menghadapi berbagai keputusan penting dalam hidup, seperti pendidikan, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Namun, cara penyampaian juga penting. Orang tua sebaiknya tidak hanya menasihati, tetapi berbagi pengalaman dengan pendekatan yang lebih terbuka dan dialogis.

Ketiga adalah kebutuhan akan kepercayaan dan kebebasan. Generasi Z cenderung ingin memiliki ruang untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Orang tua perlu memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan, sekaligus memberikan arahan yang bijak. Dengan demikian, anak dapat belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang mereka buat tanpa merasa terlalu dikontrol.

Terakhir, Generasi Z membutuhkan rasa aman secara emosional dalam keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi atau dibandingkan dengan orang lain. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang penuh penerimaan, dukungan, dan kasih sayang agar anak merasa aman untuk berbagi cerita, kegagalan, maupun perasaannya.

Pada akhirnya, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter Generasi Z. Dengan komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, serta kepercayaan yang seimbang, hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi lebih harmonis. Jika keluarga mampu memahami kebutuhan Generasi Z, maka mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Indonesia

Media Sosial vs Rumah Tangga: Antara Privasi dan Pencarian Validasi

 

Lex dePraxis

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Banyak pasangan kini membagikan momen kebersamaan mereka secara terbuka, mulai dari kebahagiaan sederhana hingga konflik yang terjadi di dalam hubungan. Dalam program Sketsa Keluarga Indonesia, topik mengenai “media sosial versus rumah tangga: privasi atau validasi” menjadi perbincangan menarik. Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik semakin kabur seiring berkembangnya teknologi digital.

Sebagian orang memposting pasangan atau kehidupan rumah tangganya sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa bangga terhadap pasangan. Bagi mereka, media sosial adalah sarana untuk merayakan hubungan dan berbagi momen bahagia dengan orang lain. Namun, tidak sedikit juga yang memposting dengan tujuan mencari pengakuan atau validasi dari lingkungan sosial. Dalam praktiknya, cukup sulit membedakan mana yang murni ekspresi kebahagiaan dan mana yang sekadar ingin terlihat ideal di mata publik. Keduanya bisa saja terjadi bersamaan dalam kehidupan digital seseorang.

Di sisi lain, penggunaan media sosial juga kerap memicu konflik dalam hubungan. Banyak pertengkaran pasangan ternyata bukan karena unggahan romantis, tetapi karena aktivitas seperti mengikuti akun lawan jenis, memberikan tanda suka, atau berinteraksi melalui pesan pribadi. Hal-hal kecil ini sering menimbulkan rasa cemburu, terutama jika perhatian tersebut tidak diberikan secara seimbang kepada pasangan sendiri. Pada akhirnya, masalah yang muncul bukan sekadar aktivitas di media sosial, tetapi perasaan kurang diperhatikan dalam hubungan.

Meski demikian, setiap keluarga sebenarnya memiliki batasannya sendiri dalam menggunakan media sosial. Ada pasangan yang nyaman berbagi banyak hal secara terbuka, sementara yang lain lebih memilih menjaga privasi rumah tangga mereka. Tidak ada aturan yang benar-benar mutlak, selama kedua pihak saling memahami dan menyepakati batasan tersebut. Kunci utamanya adalah komunikasi yang sehat serta rasa saling menghormati dalam menjaga privasi dan kepercayaan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Ia bisa menjadi sarana yang mempererat hubungan, tetapi juga dapat menjadi pemicu konflik jika digunakan tanpa kesadaran dan batasan yang jelas. Oleh karena itu, pasangan perlu berdiskusi mengenai bagaimana mereka ingin menggunakan media sosial dalam kehidupan rumah tangga. Dengan saling memahami harapan dan batasan masing-masing, media sosial dapat tetap menjadi ruang berbagi tanpa harus mengorbankan keharmonisan keluarga.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 02 Maret 2026

Waspada Skimming: Kenali Modusnya dan Pahami Hak Perlindungan Hukumnya


Kejahatan siber semakin berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital. Salah satu modus yang marak terjadi adalah skimming, yaitu pencurian data kartu debit atau kredit untuk menguras saldo korban tanpa disadari. Kasus ini kerap muncul dalam pemberitaan dan media sosial, bahkan banyak korban baru menyadari setelah mendapati transaksi mencurigakan di rekening mereka. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga Indonesia untuk memahami bagaimana modus ini bekerja dan bagaimana perlindungan hukum yang tersedia.

Secara sederhana, skimming adalah tindakan mengambil data kartu secara ilegal, biasanya melalui alat yang dipasang di mesin ATM atau melalui rekayasa digital seperti tautan dan aplikasi palsu. Pelaku dapat merekam data kartu dan PIN korban, lalu menggandakan kartu tersebut untuk melakukan transaksi. Ada pula modus online, di mana korban diarahkan mengklik link tertentu yang menyerupai situs resmi bank. Bahkan, pelaku sering mengambil dana dalam jumlah kecil agar tidak langsung terdeteksi, padahal jika dilakukan secara masif, nilainya bisa sangat besar.

Dari sisi hukum, pelaku skimming dapat dijerat dengan sejumlah peraturan perundang-undangan. Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pencurian sekaligus pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ancaman hukumannya mencakup pidana penjara dan denda dalam jumlah besar. Artinya, negara telah menyediakan dasar hukum yang cukup kuat untuk menindak pelaku dan melindungi korban dari penyalahgunaan data pribadi.

Namun demikian, tantangan terbesar bukan hanya pada regulasi, melainkan pada kesadaran masyarakat. Banyak korban enggan melapor karena merasa kerugiannya kecil atau tidak memahami proses hukumnya. Padahal, setiap korban memiliki hak untuk membuat laporan, memperoleh pendampingan hukum, serta dalam kondisi tertentu menuntut ganti rugi. Meningkatkan literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam praktik penipuan yang semakin canggih.

Sebagai langkah pencegahan, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan: selalu tutup keypad saat memasukkan PIN di ATM, rutin mengecek mutasi rekening, jangan sembarangan mengklik tautan, unduh aplikasi hanya dari sumber resmi, dan jangan pernah membagikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas. Perlindungan hukum memang tersedia, tetapi pertahanan pertama tetaplah kewaspadaan diri sendiri. Dengan pengetahuan dan kehati-hatian, kita dapat melindungi diri dan keluarga dari ancaman kejahatan skimming.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Kamis, 26 Februari 2026

Lawan Diskriminasi ODGJ di Dunia Kerja: Memahami, Mendampingi, dan Memberi Kesempatan

 



Program Sketsa Keluarga Indonesia kembali menghadirkan perbincangan penting tentang isu sosial yang kerap luput dari perhatian: melawan diskriminasi terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di dunia kerja. Bersama perwakilan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan dr. Maryatul Choirah, SpKJ yang berpraktik di Rumah Sakit Fatmawati, dibahas secara lugas bagaimana stigma masih menjadi tantangan besar bagi ODGJ untuk memperoleh kesempatan kerja yang setara. Padahal, seperti individu lainnya, mereka memiliki hak, potensi, dan kemampuan untuk produktif.

Secara definisi, ODGJ adalah individu yang mengalami gangguan pada pikiran, perasaan, dan perilaku yang terdiagnosis sesuai pedoman medis. Gangguan ini memiliki spektrum luas, mulai dari gangguan ringan seperti kecemasan dan depresi, hingga gangguan berat seperti skizofrenia. Tidak semua ODGJ menunjukkan gejala yang tampak mencolok. Banyak di antaranya mampu berfungsi secara normal, terutama jika mendapatkan penanganan yang tepat, baik melalui pengobatan (psikofarmaka) maupun terapi psikologis. Karena itu, anggapan bahwa ODGJ selalu identik dengan “orang terlantar” atau tidak mampu bekerja adalah kekeliruan yang perlu diluruskan.



Stigma di lingkungan kerja biasanya muncul karena kurangnya pemahaman. Label negatif, anggapan tidak kompeten, hingga pengucilan sosial sering kali terjadi bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena prasangka. Padahal, secara hukum, negara menjamin hak ODGJ untuk bekerja dan memperoleh perlakuan yang adil. Tantangannya terletak pada komunikasi dan penyesuaian peran. Perusahaan tentu memiliki standar dan kebutuhan tertentu, namun dengan pendekatan yang tepat, banyak ODGJ yang dapat ditempatkan sesuai kompetensinya dan bekerja secara optimal.

Kunci agar ODGJ dapat produktif adalah stabilitas kondisi mental, dukungan keluarga, serta lingkungan kerja yang suportif. Stabil bukan berarti tanpa pengobatan, melainkan kondisi yang terkontrol sehingga individu mampu mengelola stres dan tanggung jawab pekerjaan. Keterbukaan, bila memungkinkan, juga dapat membantu atasan memahami kebutuhan khusus yang mungkin diperlukan. Dukungan ini penting karena gangguan kejiwaan, seperti penyakit fisik lainnya, dapat kambuh jika tidak ditangani secara komprehensif—baik dari sisi biologis, psikologis, maupun sosial.

Pada akhirnya, melawan diskriminasi terhadap ODGJ di dunia kerja bukan hanya soal memberi kesempatan, tetapi juga soal membangun kesadaran bersama. ODGJ bukanlah label yang menghapus kemampuan seseorang. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka dapat pulih, stabil, dan berprestasi. Seperti semangat Sketsa Keluarga Indonesia, memperkuat keluarga dan lingkungan kerja yang inklusif berarti turut memperkokoh Indonesia melalui empati, pemahaman, dan kolaborasi.

Restorative Justice di Era KUHP Baru: Saatnya Hukum Mengedepankan Pemulihan



Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional menandai babak baru dalam sistem hukum Indonesia. KUHP baru ini disusun dengan semangat kemandirian bangsa serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kemanfaatan hukum. Salah satu pendekatan penting yang semakin ditegaskan dalam era ini adalah restorative justice atau keadilan restoratif, yaitu model penyelesaian perkara pidana yang tidak semata-mata berorientasi pada penghukuman, melainkan pada pemulihan hubungan dan tanggung jawab moral pelaku.

Restorative justice merupakan mekanisme penyelesaian perkara pidana dengan melibatkan pelaku, korban, dan keluarga kedua belah pihak untuk bermusyawarah mencari solusi yang adil. Pendekatan ini bertujuan memperbaiki keretakan sosial akibat tindak pidana serta mengembalikan keseimbangan yang terganggu. Dalam praktiknya, pelaku didorong untuk mengakui kesalahan, menunjukkan penyesalan, serta bertanggung jawab secara nyata, baik melalui penggantian kerugian maupun bentuk pemulihan lain yang disepakati bersama.

Namun, tidak semua tindak pidana dapat diselesaikan melalui pendekatan ini. Restorative justice umumnya diterapkan pada tindak pidana ringan dengan ancaman hukuman yang tidak berat dan bukan merupakan pengulangan kejahatan. Kasus seperti pencurian ringan, pencemaran nama baik, atau kekerasan ringan dalam rumah tangga masih dapat dipertimbangkan untuk diselesaikan melalui mediasi. Sebaliknya, tindak pidana berat seperti pembunuhan, korupsi, atau kekerasan yang menimbulkan luka serius tetap harus diproses melalui jalur peradilan formal.

Salah satu manfaat besar penerapan restorative justice adalah membantu mengatasi persoalan overkapasitas lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Dengan menyelesaikan perkara-perkara ringan melalui mediasi dan kesepakatan damai, jumlah orang yang harus menjalani pidana penjara dapat ditekan. Selain itu, pendekatan ini juga mencegah rusaknya hubungan sosial yang sebelumnya baik, misalnya antara tetangga, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga sendiri.

Pada akhirnya, restorative justice mencerminkan wajah hukum yang lebih humanis dan berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar pembalasan. Hukum tidak hanya mengejar kepastian, tetapi juga keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Di era KUHP baru, pendekatan ini menjadi langkah progresif untuk membangun sistem hukum yang lebih bijaksana, adil, serta selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Rabu, 25 Februari 2026

Child Grooming Mengintai: Sudahkah Hukum dan Keluarga Siap Melindungi Anak?

 


Kasus child grooming semakin marak dan kerap terjadi tanpa disadari, baik melalui interaksi langsung maupun lewat media sosial. Modusnya tidak selalu disertai kekerasan fisik, melainkan dimulai dari pendekatan emosional, bujuk rayu, hingga manipulasi psikologis yang membuat anak merasa aman dan percaya pada pelaku. Karena anak belum memiliki kematangan dalam mengambil keputusan, terutama terkait relasi seksual, praktik ini tetap tergolong tindak pidana meskipun tampak seperti “suka sama suka”.

Di Indonesia, perlindungan terhadap anak sebenarnya telah diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Perbuatan membujuk, menipu, atau memanipulasi anak untuk tujuan seksual dapat dijerat pidana berat, bahkan tanpa harus ada unsur kekerasan fisik. Selain hukuman penjara, pelaku juga dapat dikenai restitusi untuk membantu pemulihan korban, meski dalam praktiknya pembuktian—terutama di ranah digital—sering menjadi tantangan tersendiri.

Dampak child grooming tidak hanya terjadi sesaat, tetapi bisa membekas dalam jangka panjang. Korban dapat mengalami trauma psikologis, gangguan emosional, kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun relasi di masa depan. Karena itu, penegakan hukum saja tidak cukup; pemulihan psikologis dan dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam memastikan anak benar-benar pulih dan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya dengan sehat.

Pada akhirnya, perlindungan terbaik tetap dimulai dari keluarga. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan edukasi seks sesuai usia, serta mendampingi aktivitas digital anak. Hukum memang menjadi payung perlindungan, tetapi benteng pertama yang menjaga anak dari bahaya grooming adalah rumah yang aman, hangat, dan penuh kepercayaan.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Polyworking: Tren Cerdas atau Sekadar Ikut Arus?





Belakangan ini, istilah polyworking semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan pekerja urban. Di tengah naiknya kebutuhan hidup, tekanan ekonomi, dan gaya hidup yang terus berkembang, banyak orang mulai mengambil lebih dari satu pekerjaan—bahkan dalam waktu yang bersamaan.

Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan: polyworking itu langkah cerdas atau sekadar ikut-ikutan agar terlihat produktif dan ambisius?

Dalam sebuah diskusi bersama praktisi Human Resource Development, Anung Prakoso, dibahas secara mendalam tentang tren ini dari berbagai sudut pandang—karyawan, perusahaan, hingga keluarga. 

Apa Itu Polyworking?

Polyworking adalah praktik bekerja di dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang sama. Ini berbeda dengan side hustle atau kerja sampingan yang dilakukan di luar jam kerja utama.

Jika seseorang bekerja di perusahaan A pukul 09.00–17.00 WIB, lalu di waktu yang sama mengerjakan proyek untuk perusahaan B, maka itulah yang disebut polyworking.

Perkembangan teknologi menjadi pendorong utama. Sistem kerja remote, fleksibilitas waktu, hingga akses proyek global membuat seseorang bisa:

  • Bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa harus hadir fisik

  • Mengambil proyek freelance bersamaan dengan pekerjaan utama

  • Mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber sekaligus

Mengapa Polyworking Semakin Populer?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong tren ini:

1. Tekanan Ekonomi

Inflasi, kenaikan kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya pendidikan, dan gaya hidup membuat banyak orang merasa satu sumber penghasilan saja tidak cukup.

2. Perubahan Pola Pikir Generasi

Jika dulu loyalitas pada satu perusahaan dianggap ideal, kini generasi milenial dan Gen Z lebih terbuka pada diversifikasi pendapatan. Bagi mereka, satu pekerjaan terasa “kurang ambisius”.

3. Fleksibilitas Dunia Kerja

Banyak perusahaan kini tidak lagi menuntut kehadiran fisik. Yang penting target tercapai. Ini membuka ruang untuk mengerjakan pekerjaan lain secara paralel.

Dari Sisi Perusahaan: Sah atau Tidak?

Menurut perspektif HR, polyworking bisa menjadi persoalan etika jika:

  • Dilakukan tanpa izin perusahaan

  • Menggunakan jam kerja untuk pekerjaan lain

  • Berpotensi menimbulkan konflik kepentingan

  • Ada risiko kebocoran informasi

Perusahaan membayar gaji, benefit, dan fasilitas berdasarkan kesepakatan jam kerja. Jika jam tersebut digunakan untuk kepentingan lain tanpa transparansi, ini bisa dianggap pelanggaran.

Karena itu, penting untuk:

✔️ Memastikan ada izin atau aturan yang jelas
✔️ Tidak melanggar kontrak kerja
✔️ Tidak merugikan perusahaan utama

Jika ingin lebih fleksibel, opsi seperti freelance atau part-time sering kali lebih aman dibanding menjadi karyawan tetap yang terikat kontrak penuh.

Apakah Polyworking Bisa Maksimal?

Secara teori, mungkin.
Secara praktik, sangat menantang.

Mengelola dua hingga tiga pekerjaan dalam waktu bersamaan membutuhkan:

  • Time management yang sangat baik

  • Skala prioritas yang jelas

  • Fokus tinggi

  • Disiplin ekstrem

Masalahnya, manusia punya keterbatasan: waktu, energi, dan kesehatan.

Sering kali yang terlihat di media sosial hanyalah kesibukan dan pencapaian. Namun di balik itu, bisa saja ada kelelahan, stres, bahkan relasi keluarga yang terganggu.

Dampak terhadap Kesehatan dan Keluarga

Ini bagian yang sering diabaikan.

Jika mulai muncul tanda-tanda seperti:

  • Mudah stres

  • Kurang tidur

  • Hubungan keluarga renggang

  • Tidak punya waktu untuk diri sendiri

  • Ibadah atau hobi terbengkalai

Itu bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi ulang.

Hidup bukan hanya tentang uang. Tidak ada “spare part” untuk kesehatan fisik maupun mental. Uang bisa dicari kembali, tetapi waktu dan kesehatan tidak bisa diganti.

Tren Cerdas atau Sekadar Gaya?

Jawabannya: tergantung.

✔️ Bisa jadi tren cerdas jika:

  • Dilakukan dengan izin dan etika yang benar

  • Tidak mengorbankan kualitas kerja

  • Tidak merusak kesehatan

  • Masih ada keseimbangan hidup

❌ Bisa jadi sekadar ikut arus jika:

  • Hanya untuk validasi sosial

  • Demi terlihat sibuk dan ambisius

  • Mengabaikan keluarga dan kesehatan

  • Tidak punya manajemen waktu yang baik

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 23 Februari 2026

Belajar Psikologi untuk Apa? Ini Jawaban yang Perlu Kamu Tahu

 



Minat terhadap jurusan psikologi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang tertarik mempelajari psikologi karena ingin memahami diri sendiri, membantu orang lain, atau tertarik dengan isu kesehatan mental yang semakin sering dibahas. Namun, sebenarnya belajar psikologi itu untuk apa?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Di dalamnya, mahasiswa tidak hanya belajar tentang emosi dan kepribadian, tetapi juga tentang perkembangan manusia, relasi sosial, dinamika keluarga, hingga aspek biologis yang memengaruhi perilaku. Psikologi membantu kita memahami mengapa seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara tertentu. Ilmu ini tidak sekadar tentang “membaca pikiran”, melainkan tentang memahami pola dan proses di balik perilaku manusia secara ilmiah.

Perlu dipahami juga bahwa lulusan S1 Psikologi belum otomatis menjadi psikolog. Untuk bisa praktik dan memberikan layanan konseling atau terapi, seseorang harus melanjutkan ke pendidikan profesi serta memiliki sertifikasi sesuai aturan yang berlaku. Ini penting agar layanan yang diberikan tetap etis, aman, dan profesional. Artinya, belajar psikologi adalah proses panjang yang menuntut tanggung jawab besar.

Menariknya, belajar psikologi tidak otomatis membuat seseorang langsung sehat mental. Pengetahuan memang meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), tetapi kesehatan mental tetap membutuhkan proses pengolahan emosi, refleksi, dan terkadang bantuan profesional. Banyak orang yang belajar psikologi justru semakin menyadari luka atau pola tidak sehat dalam dirinya. Namun kesadaran itulah langkah awal menuju pertumbuhan dan pemulihan.

Di era digital saat ini, banyak orang mencari jawaban tentang kesehatan mental melalui internet atau bahkan AI. Teknologi memang bisa menjadi alat bantu untuk mendapatkan informasi awal, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan antarmanusia. Proses konseling dan terapi tetap membutuhkan empati, koneksi, dan kehadiran yang autentik—sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh manusia.

Pada akhirnya, belajar psikologi bukan hanya soal karier. Psikologi membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam, membangun relasi yang lebih sehat, serta memahami orang lain dengan empati. Ilmu ini relevan bukan hanya bagi calon psikolog, tetapi bagi siapa pun yang ingin hidup lebih sadar, dewasa secara emosional, dan mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Perselingkuhan dan Versi Diri yang Hilang: Memahami Akar Masalah dalam Pernikahan




Perselingkuhan bukan sekadar hadirnya orang ketiga dalam sebuah pernikahan, melainkan pelanggaran terhadap komitmen yang telah disepakati bersama. Ketika dua orang menikah, mereka membangun janji tentang kesetiaan, keterbukaan, dan kebersamaan. Namun dalam kenyataannya, sebagian pasangan terjebak dalam hubungan rahasia yang diawali dari kedekatan emosional, komunikasi yang intens, dan hal-hal yang disembunyikan. Kerahasiaan inilah yang perlahan merusak fondasi utama pernikahan: kepercayaan.

Di balik banyak kasus perselingkuhan, terdapat apa yang disebut sebagai “versi diri yang hilang”. Seseorang mungkin merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri dalam pernikahan. Ia merindukan perhatian, penghargaan, dukungan, atau keintiman yang tidak ia rasakan. Tidak jarang, hal ini berakar dari luka masa kecil atau trauma yang belum terselesaikan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak dipahami atau tidak terkomunikasikan dengan baik, sebagian orang mencari pemenuhan di luar hubungan resminya.

Kurangnya komunikasi yang sehat menjadi salah satu pemicu utama. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan—seolah-olah pasangan harus menjadi penyembuh semua luka batin—juga memperberat keadaan. Padahal, pasangan bukanlah terapis pribadi. Pernikahan yang sehat menuntut dua individu yang sama-sama mau bertumbuh, bukan saling menuntut tanpa refleksi diri. Tanpa kesadaran dan kemauan untuk memproses masalah, jarak emosional bisa semakin melebar dan membuka celah bagi perselingkuhan.

Meski demikian, pernikahan yang terluka masih memiliki peluang untuk dipulihkan. Dengan kejujuran, tanggung jawab, serta kesediaan mencari bantuan profesional, banyak pasangan mampu membangun kembali hubungan yang lebih kuat. Bagi pihak yang terluka, proses pengampunan sering menjadi bagian penting dalam pemulihan, meski tidak mudah dan membutuhkan waktu. Pada akhirnya, menjaga pernikahan berarti terus merawat komunikasi, saling menghargai, dan berkomitmen untuk bertumbuh bersama demi menjaga kepercayaan yang telah dibangun. 

sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Sabtu, 21 Februari 2026

Ramah Tapi Berbahaya: Mengenal Child Grooming yang Mengintai Anak Kita

 




Banyak orang tua membayangkan ancaman terhadap anak datang dari sosok asing yang mencurigakan. Padahal, child grooming sering hadir dengan wajah yang justru terlihat baik, perhatian, dan penuh empati. Pelaku membangun kedekatan secara perlahan, membuat anak merasa dimengerti, dihargai, bahkan dianggap “spesial”. Dari situlah proses manipulasi dimulai—tanpa bentakan, tanpa paksaan, tanpa disadari. Inilah yang membuat child grooming begitu berbahaya: ia bekerja diam-diam, menyusup melalui rasa percaya.

Child grooming bukan peristiwa instan, melainkan proses bertahap. Pelaku biasanya memberi perhatian berlebihan, sering menghubungi, memberi hadiah, atau menjadi tempat curhat yang tampak paling memahami. Setelah kedekatan terbangun, batasan mulai digeser sedikit demi sedikit. Anak bisa diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari orang tua, atau dibuat merasa bersalah jika tidak menuruti permintaan. Karena secara emosional anak—terutama usia remaja awal—belum sepenuhnya matang, mereka lebih mudah terjebak dalam relasi yang terasa nyaman tetapi sebenarnya manipulatif.

Di era digital, ruang grooming semakin luas. Media sosial, gim online, hingga aplikasi percakapan menjadi pintu masuk yang sulit diawasi sepenuhnya. Pelaku bisa berpura-pura seusia, menggunakan identitas palsu, atau tampil sebagai mentor yang suportif. Tanda-tandanya sering kali samar: anak menjadi lebih tertutup, defensif saat ditanya tentang teman online-nya, atau menunjukkan perubahan emosi yang drastis. Tanpa komunikasi yang hangat di rumah, sinyal-sinyal ini mudah terlewat.

Karena itu, perlindungan terbaik bukan sekadar pembatasan gawai, melainkan kedekatan emosional. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi. Ajarkan mereka mengenali rasa tidak nyaman, berani berkata “tidak”, dan memahami bahwa rahasia yang membuat gelisah bukanlah rahasia yang harus disimpan. Saat rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang dan berbagi, peluang bagi pelaku grooming untuk menyusup akan semakin kecil.


Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Satu Atap, Dua Dunia: Saat Keluarga Terlihat Utuh tapi Hati Berjarak



Di luar tampak baik-baik saja. Ayah bekerja, ibu mengurus rumah atau kariernya, anak-anak sekolah dan tumbuh seperti biasa. Tidak ada perceraian, tidak ada konflik besar yang terdengar ke tetangga. Namun diam-diam, ada jarak yang tak kasat mata. Makan bersama tanpa percakapan berarti, duduk satu ruangan tapi sibuk dengan gawai masing-masing, atau berbicara hanya seperlunya. Inilah potret keluarga yang terlihat utuh, tetapi hatinya berjalan sendiri-sendiri.

Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Teknologi yang seharusnya mendekatkan justru sering menciptakan ruang privat berlebihan di dalam rumah. Suami dan istri tenggelam dalam pekerjaan dan media sosial, anak-anak larut dalam dunia pertemanan dan game. Tanpa disadari, momen kecil seperti bercanda di meja makan atau berbagi cerita sebelum tidur perlahan menghilang. Ketika komunikasi hanya sebatas informasi, bukan lagi koneksi, hubungan emosional pun mulai menipis.

Yang membuat situasi ini berbahaya adalah karena ia terasa “normal”. Banyak pasangan menganggap wajar jika pernikahan tak lagi sehangat dulu. Banyak orang tua memaklumi jika anak lebih nyaman bercerita pada teman dibanding keluarga. Padahal, hubungan yang dibiarkan dingin tanpa usaha memperbaiki bisa berubah menjadi kebiasaan yang sulit dipulihkan. Keluarga bukan hanya soal tinggal bersama, melainkan tentang merasa didengar, dihargai, dan dipahami.

Membangun kembali kehangatan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kadang cukup dengan bertanya, “Apa yang membuatmu nyaman di rumah ini?” atau menyediakan waktu khusus tanpa gangguan gawai. Mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa menggurui, dan memberi ruang tanpa kehilangan kedekatan adalah kunci agar rumah tetap menjadi tempat pulang yang dirindukan. Karena pada akhirnya, keluarga yang benar-benar utuh adalah keluarga yang hatinya saling terhubung.


sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang

Senin, 26 April 2021

Menghindar Keramain Kota,Dusun Bambu Bandung Aja

Bandung memang terkenal sebagai tujuan wisata yang menjadi pilihan pelancong di akhir pekan. Kita bisa wisata kuliner, wisata agro, wisata petualang, sampai wisata alam dapat kita lakukan di Bandung. Selain sebagai tujuan wisata Bandung juga dipilih sebagai kota tujuan bagi para pelancong untuk berbelanja. Berbagai macam factory outlet yang ada di Bandung menjual barang-barang branded sampai produk lokal UKM yang tidak kalah saing. 

Ngomongin Bandung kayanya juga ga ada habisnya ya, dari Gubernurnya yang berkharisma sampai udara sejuk yang dimiliki. Berbagai macam tempat wisata tentu menarik untuk dikunjungi di kota kembang ini. Kalau kalian ingin stress release  di akhir pekan, Dusun Bambu bisa menjadi destinasi untuk kalian.

Lokasi dari dusun bambu ini berada di Jl. Kolonel Masturi KM. 11 Kartawangi, Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk perjalanan dari Jakarta kalian bisa keluar dari Tol Pasteur kemudian langsung menuju ke Lembang, lanjut lagi ke arah parongpong dan kalian akan tiba disana. Nah, harap hati-hati juga ya karena didekat lokasi wisata ini ada area yang rawan longsor. Jadi, kita harus hati-hati juga nih pada saat berkendara. 

Untuk waktu tempuhnya sendiri dari Jakarta sampai ke Lokasi membutuhkan waktu sekitar 4 jam, karena akhir pekan pasti macet. Eit jangan khawatir juga, kalau ingin puas menikmati wahana yang ada di dusun bambu ini, kalian bisa menginap di vila atau pun tempat berkemah yang ada disana. Untuk harganya kalian bisa check aja langsung ke websitenya Dusun Bambu Lembang ini ya.

Dokumentasi Pribadi

Daya tarik lainnya yang ada di Dusun Bambu Lembang ini kita dapat mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan sunda. Pengunjung dapat membuat kerajinan sendiri yang pastinya dilakukan secara tradisional. Wahana Lembur Urang ini menjadi favorit, karena setelah berlelah dengan anyaman ataupun mengenal kebudayaan Sunda kita bisa beristirahat di restoran yang ada di Lembur Urang ini. Untuk menu makanan yang disediakan juga menu makanan dari Indonesia. Kita pun bisa memilih paket untuk pesanan hingga 6 orang. Menu bebeknya bisa menjadi pilihan buat kalian yang sudah lelah menjelajah Dusun Bambu ini. 

Wahana lain yang ada di Dusun Bambu ini adalah Danau yang ada disana. Kita bisa menggunakan perahu untuk sekedar menikmati pemandangan atau berfoto. Sebagai informasi tambahan, Dusun bambu Lembang ini juga dekat dengan air terjun Cimahi. Jadi, jangan menghabiskan tenaga jika ingin mampir ke air terjun Cimahi. Gimana udah punya siap belum untuk merencanakan liburan kalian ke Dusun Bambu Lembang?






Rabu, 21 April 2021

Kartini, Pejuang Tanpa Senjata Perang

“Habis gelap terbitlah terang”


Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati hari Kartini. Peringatan hari Kartini berdasarkan keputusan Presiden RI No.108 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.  R.A Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional  yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara. Ia adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara dan ibunya bernama M.A Ngasirah. Kartini adalah anak ke 5 dari 11 bersaudara. Ia dikenal dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berkeingintahuan yang tinggi. Kartini mengenyam pendidikan hingga usia 12 tahun di ELS yang merupakan sekolah dasar zaman kolonial Hindia Belanda.

Kartini diketahui menguasai bahasa Belanda yang ia dapatkan selama pendidikan di ELS. Berhenti dari sekolah tidak membuat keinginan belajarnya terhenti. Kartini pun mulai mengirimkan surat kepada teman-teman korespendensinya yang berasal dari Belanda. Kartini mulai membaca buku-buku,koran, dan majalah Eropa hingga tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Ia pun berkeinginan untuk memajukan perempuan pribumi.

Dalam surat-suratnya kartini menuangkan pemikiran dan gagasannya. Salah satu gagasan yang dituangkan adalah emansipasi atau persamaan derajat wanita pribumi. Surat-surat yang Kartini tulis banyak memuat keluhan-keluhan mengenai kondisi wanita pribumi pada saat itu. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan mendukungnya untuk mendirikan sekolah wanita. Kartini Wafat pada tanggal 17 September 1904 dan memiliki seorang anak yang bernama Soesalit Djojohadhiningrat

 

 

Sabtu, 10 April 2021

Sejarah Kota Medan, Ini Dia!



Kota Medan sebagai ibu kota provinsi Sumatra UtaraIndonesia, merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya, serta kota terbesar di luar pulau Jawa. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dengan keberadaan Pelabuhan Belawan dan Bandar Udara Internasional Kuala Namu yang merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia. Akses dari pusat kota menuju pelabuhan dan bandara dilengkapi oleh jalan tol dan kereta api. Medan adalah kota pertama di Indonesia yang mengintegrasikan bandara dengan kereta api.

Sejarah Medan berawal dari sebuah kampung yang didirikan oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura,  maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular.

Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara kedua sungai tersebut.

 Hari jadi Kota Medan ditetapkan pada 1 Juli 1590. Selanjutnya pada tahun 1632, Medan dijadikan pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Bangsa Eropa mulai menemukan Medan sejak kedatangan John Anderson dari Inggris pada tahun 1823. Peradaban di Medan terus berkembang hingga Pemerintah Hindia Belanda memberikan status kota pada 1 April 1909 dan menjadikannya pusat pemerintahan Karesidenan Sumatra Timur. Memasuki abad ke-20, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.


Kamis, 08 April 2021

Samsung A12, HP Kelas Menengah yang Cihuy!

Samsung Galaxy A12 sebagai handphone kelas menengah memiliki fitur dan spesifikasi yang bisa diandalkan. Dengan fitur  multi kamera 48 MP serta memiliki live fokus yang dapat membuat background foto menjadi blur disertai dengan kamera macro yang sudah ada pada HP ini. Selain fitur kamera keunggulan dari Galaxy A12 ini memiliki daya tahan baterai yang panjang. 

Selain Fitur kamera dan baterai yang tahan lama, Samsung Galaxy A12 ini juga memiliki sensor sidik jari, WLAN, bluetooth, dan fitur menarik lainnya. Untuk pilihan warna pihak samsung memberikan 4 warna yang tersedia ada merah, biru, hitam, dan putih. 

Untuk Ram dan Memory kita bisa memilih dengan kapasitas 4/64G dengan harga Rp 2.499.00 atau dengan kapasitas 6/124G  dengan harga Rp 2.799.00. Pilihan memory dan ram ini tentu tergantung keperlukan kita dalam pemakaian.

Media penyimpanan Samsung Galaxy A12 ini juga bisa ditambah hingga 1Tb dengan MicroSd. Untuk penggunakan simcard sendiri, Samsung Galaxy A12 ini dapat menggunakan dual sim. Untuk layar dari Hp ini memiliki lebar 6.5 Inchi dengan resolusi 720 x 1560 pixel. Selain itu ponsel ini menggunakan chipset MediaTek Helio P35, Android 10.0, One UI Core 2.5.

Bagaimana tertarik untuk ponsel kelas menengah ini? 



Jumat, 22 November 2019

Game Online

Permainan game online di Indonesia tidak ada habisnya. Setiap tahun dari pengembang game selalu memiliki game terbaru dan menjadi andalan. Permainan game online dahulu hanya dapat dimainkan dari PC yang memiliki spesifikasi yang sesuai dengan game yang dibutuhkan dan pastinya para pemain game online memerlukan internet.  Sejak era tahun 2000 banyak sekali warnet yang menjamur dengan meluncurkan game-game online terbaru. Pengembang game pun bekerja sama dengan warnet game online sebagai promosi. Game seperti CS, RAN ONLINE, RF ONLINE, SEAL dan DOTA menjadi game yang paling banyak dimainkan pada tahun 2000 - 2007 Jenis game online pun beragam seperti MMROPG,MMOFPS, MMROTS, dan SIMULATION GAME.

Game seperti mobile legend & PUBG menjadi game yang paling banyak dimainkan saat ini. Bahkan tidak sedikit wanita yang ikut memainkan game ini. Dengan semakin canggihnya teknologi handphone dan semakin kecilnya ukuran game online, permainan game ini pun berubah dengan sendirinya. Namun, tidak menutup kemungkinan gamer yang masih memainkannya di PC yang khusus game. Permainan game online saat ini masih digemari karena banyaknya kompetisi game yang terus diadakan. Selain itu juga, dengan adanya youtube game para kreator mendapatkan penghasilan dengan konten yang mereka buat. Bahkan dari membuat konten game di youtube, seorang gamer dengan akun youtube jesse no limit dapat membeli mobil mewah. 

Sejak tahun 2000 hingga sekarang game online memang belum pudar dari pecinta game. Meskipun, banyak pro dan kontra akan keberadaan game online pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus dan memasukannya ke cabang olah raga.  Bahkan saat ini Indonesia pun memiliki atlet e-sportnya yang akan bertanding di Sea Games 2019 yang diadakan di Filipina. Hal ini juga menjadi peluang bagi pemain game online untuk dapat berkompetisi secara resmi.



Jumat, 13 September 2019

Komunikasi Massa Love it deh

Menurut Freidson definisi komunikasi massa menurut Freidson dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok, dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. Komunikasi massa juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan komuniaksi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. (Rakhmat seperti yang dikutip dalam Komala, dalam Karlinah. 1999).  

Pengertian dari Freidson ini menarik banget dan ga kebetulan juga sih sebenarnya gue lagi nyari materi untuk siaran, nah ketemu deh di media online yang terpercaya di Indonesia ada berita daerah yang buat gue menarik untuk disiarin. lanjut lagi ya, di media online itu ada berita mengenai desas-desus yang sedang hangat. Berita itu jenisnya berita konflik di daerah tersebut. Disini komunikasi massa memiliki peran sebagai informasi. Nah, teori dari freidson ini pas banget karena berita tersebut di wilayah a dan saya berada di wilayah b. Dan tidak sampai disitu juga sih dari media sosial pejabat tersebut juga memberikan informasi yang sebenarnya dalam media sosial ( keren kan media massa sekarang, tapi tetap dari sumber yang terpercaya ya ) dan memang komunikasi massa yang terdengar juga menjelaskan dari duduk permasalahan berita yang sedang hangat itu dan fungsi persuasinya pun dapat. Keren kan komunikasi massa itu jadi ga hanya negatif aja...yowes manuntun aruan pamit dulu waktunya pulang dari kantor. Tetap berpikir positif teman-teman walaupun stres melanda....(walah so menggurui aku toh)

Kamis, 18 Juli 2019

Siaran Radio Am rasa Fm

Pasti udah pada tau kan radio Am itu apa dan radio Fm itu apa??iya bener, tinggal klik di om google juga pasti ketemu kok, jadi ga perlu dijelasin lagi ya bedanya radio Am dan Fm. Kenapa sih dengan judulnya?? waduh kenapa ya saya buat judulnya begitu? soalnya keinget teman siaran pertama kali, yupp di radio am pastinya. Pertama kali dengar nih kalimat jadi mikir-mikir juga sih kalau ucapannya bisa bikin ketawa-ketawa sendiri. Temen siaran saya awalnya penyiar Fm, trus dia pindah di satu kantor yang sama saya, ketemu deh kita di am 738. 

Temen ane ini orangnya kocak, lebih senior tapi orangnya kalem. Mau diboongin dia juga pasti kita inget kalemnya...hehehehe(becanda). Temen siaran pernah bilang ini radio Am tapi rasanya Fm.hah??? nah ini dia, saya juga baru ngerti kalau program radio am itu sama kaya di program Fm. Saya setuju nih sama pendapat temen siaran pertama saya di radio. Kesimpulannya Amplitudo atau Frekuensi ya sama aja programnya, tergantung pimpinannya mau membawa radionya ke arah mana ( segmentasi radio berita, segmentasi radio anak muda atau segmentasi  radio religi ) .

Nah itu, maksudnya radio Am tapi rasa Fm. Beneran lucu kan orangnya...Pengalaman dia juga bukan sebagai penyiar aja sih. Selama di radio pernah nanganin bagian produksi. Salut untuk teman yang satu ini dari modal hanya ingin menjadi penyiar akhirnya kesampaian sampai sekarang. Oh iya, pesan terakhir deh jangan malu untuk siaran di radio Am rasanya sama kok kaya di Fm. Kalau gaji....hehehehe....itu sih di nego aja guys....

Sabtu, 16 Maret 2019

KESAN JADUL JAYA PUB

Untuk om/tante yang suka nongkrong di tahun 70 - 90 mungkin sudah tidak asing dengan Pub yang berada di pusat kota Jakarta ini. Kabar dari tempo.co.id Pub yang sudah ada sejak tahun 1975 ini menjadi Pub yang tertua di Jakarta. Pub ini berada di Gedung Jaya atau kalau mau tanya securtiy dari pintu masuk langsung aja paling belakang mas nanti ke kiri 😊😊. Ternyata pemilik pub ini adalah aktris senior Rima Melati dan alm.Frans Tumbuan. Thanks  tante tempatnya asik....😃😃😃😃😃

Kesan tempat ini jadul sudah terlihat dari luar, kesan bangunan yang lama menjadi ciri kalau Pub ini memang tampak seperti bangunan dulu. Saat masuk kedalam Pub juga terlihat bar yang berada di tengah dan bangku dan meja dari kayu menambah kesan jadul. Lebih seru lagi ada satu tempat billiard dan bar kecil didalamnya. Dan yang ga kalah serunya ada home bandnya juga. Waktu itu yang tampil Give me Five dan Ria & Friends.

Musik yang dibawa oleh band give me five ini musik dari tahun 70an hingga yang paling hits kekinian. Mereka bisa mengatur tempo musik. dari Up tempo ke slow tempo dan dari slow tempo ke Up tempo. Kesan yang teringat dari band ini vokalisnya ala-ala bruno mars dan yang paling mencengangkan dua vokalis wanitanya yang bisa membawakan musik rock. keren deh buat band yang satu ini...

Satu lagi yang tidak kalah adalah band Ria & Friends. Musik mereka kental sekali dengan musik 60an - 2000an. Mereka juga membawakan musik latin dari santana yang membuat pengunjung untuk bergoyang (keren om & tante ). Sama seperti band sebelumnya mereka membawakan up tempo dan slow tempo. Satu lagu yang saya ingat adalah Get Back dari The Beatles yang semakin meyakinkan bahwa Pub ini memiliki ciri khas Jadul. Jadi bukan hanya dari gedungnya saja yang jaman dulu sekali musiknya pun juga musik jaman dulu juga ada. Pengunjung dari Pub ini juga ada yang usia 20 - 60 tahun. Kabarnya juga tempat ini adalah langganan artis-artis ibu kota.



Pentingnya Kesadaran tentang Kesehatan Mental

  Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting dalam kehidupan modern. Tekanan pekerjaan, masalah sosial, hingga pengaruh media sosial ...