Banyak orang tua membayangkan ancaman terhadap anak datang dari sosok asing yang mencurigakan. Padahal, child grooming sering hadir dengan wajah yang justru terlihat baik, perhatian, dan penuh empati. Pelaku membangun kedekatan secara perlahan, membuat anak merasa dimengerti, dihargai, bahkan dianggap “spesial”. Dari situlah proses manipulasi dimulai—tanpa bentakan, tanpa paksaan, tanpa disadari. Inilah yang membuat child grooming begitu berbahaya: ia bekerja diam-diam, menyusup melalui rasa percaya.
Child grooming bukan peristiwa instan, melainkan proses bertahap. Pelaku biasanya memberi perhatian berlebihan, sering menghubungi, memberi hadiah, atau menjadi tempat curhat yang tampak paling memahami. Setelah kedekatan terbangun, batasan mulai digeser sedikit demi sedikit. Anak bisa diminta menyimpan rahasia, dijauhkan dari orang tua, atau dibuat merasa bersalah jika tidak menuruti permintaan. Karena secara emosional anak—terutama usia remaja awal—belum sepenuhnya matang, mereka lebih mudah terjebak dalam relasi yang terasa nyaman tetapi sebenarnya manipulatif.
Di era digital, ruang grooming semakin luas. Media sosial, gim online, hingga aplikasi percakapan menjadi pintu masuk yang sulit diawasi sepenuhnya. Pelaku bisa berpura-pura seusia, menggunakan identitas palsu, atau tampil sebagai mentor yang suportif. Tanda-tandanya sering kali samar: anak menjadi lebih tertutup, defensif saat ditanya tentang teman online-nya, atau menunjukkan perubahan emosi yang drastis. Tanpa komunikasi yang hangat di rumah, sinyal-sinyal ini mudah terlewat.
Karena itu, perlindungan terbaik bukan sekadar pembatasan gawai, melainkan kedekatan emosional. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi. Ajarkan mereka mengenali rasa tidak nyaman, berani berkata “tidak”, dan memahami bahwa rahasia yang membuat gelisah bukanlah rahasia yang harus disimpan. Saat rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang dan berbagi, peluang bagi pelaku grooming untuk menyusup akan semakin kecil.
Sumber : Sketsa Keluarga Indonesia - Radio Heartline Tangerang
